Tampilkan postingan dengan label Art. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Art. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Agustus 2009

Ini Ontelku, Mana Ontelmu


Ini Ontelku, Mana Ontelmu

DOK KOMPAS.COM
Anggota Komunitas Onthel Batavia (Koba) berpose dengan sepeda kesayangan mereka di depan Bundaran HI, Minggu (5/10/2008).
Rabu, 8 April 2009 12:38 WIB
Kereta angin berawal di Eropa di akhir abad 18. Malah, konon, Leonardo da Vinci sudah memiliki visi tentang kereta angin alias sepeda ini di akhir abad 15 melalui sketsa yang ditemukan di antara catatan hariannya. Museum Ilmu Pengetahuan (Museum of Science) di Boston, AS, menyebut sepeda – dalam sebuah pameran Leonardo da Vinci – sebagai produk dari sebuah gagasan yang merupakan gabungan antara seni dari masa Renaissance, ilmu pengetahuan, dan penciptaan.Siapa sebenarnya penemu pertama kereta angin ini masih diperdebatkan. Beberapa buku sejarah menyebutkan, Pierre dan Ernest Michaux, anak bapak asal Perancis ini tertulis sebagai penemu sepeda sekitar tahun 1860-an. Bukti lain menyatakan, kereta angin ini sudah ada jauh sebelum 1860-an, namun demikian Ernest Michaux tetap diakui sebagai penemu sepeda modern (dengan pedal dan engkol) di tahun 1860-an.Di tahun 1818 diperkenalkan sepeda Walking Machine karya Baron Karl Drais von Sauerbronn dari Jerman – tipe awal sepeda yang terbuat dari kayu tanpa pedal dan pengendaranya seperti ”menunggang kuda lumping”. Jauh sebelum itu, tahun 1790, Comte Mede de Sivrac menciptakan sepeda tanpa alat kemudi. Kereta angin tanpa alat kemudi (celeripede) ini dipercaya sebagai cikal bakal sepeda.Von Drais memodifikasi sepeda awal tadi hingga mempunyai mekanisme kemudi pada bagian roda depan dengan mengambil tenaga gerak dari kedua kaki (draisienne). Proses penciptaan selanjutnya dilakukan Kirkpatrick Macmillan tahun 1839, di mana dia menambahkan batang penggerak yang menghubungkan antara roda belakang dengan ban depan draisienne (velocipede). Untuk menjalankannya, tinggal mengayuh pedal yang ada.James Starley dan keponakannya, John Kemp Starley, mulai membangun sepeda di Inggris di tahun 1870. James Starley mempopulerkan sepeda dengan roda depan yang sangat besar dengan roda belakang sangat kecil. Dia membuat terobosan dengan mencipta roda berjari-jari dan metode cross-tangent (ordinary bicycle). Sampai kini kedua teknologi itu masih terus dipakai. Keponakannya memperbaiki temuan tadi dengan mengganti ukuran kedua roda menjadi sama besar dan menggunakan rantai sebagai penggerak roda belakang (safety bicycle).Indonesia mengenal sepeda sejak Belanda datang dan memperkenalkan alat transportasi ini ke pelosok tanah air. Hingga kini, penggemar sepeda kuno yang biasa disebut ontel/jengki – sepeda yang sangat populer di negeri Ratu Beatrix – tetap eksis bahkan meningkat. Sebut saja Jakarta, yang sudah mengawali terbentuknya perkumpulan sepeda ontel sejak 1982 bernama Perkumpulan Sepeda Tempo Doeloe Batavia Silang Monas (PSTDBSM). ”Awalnya cuma 15 orang anggotanya. Kita dulu seneng kumpul-kumpul aja di Monas. Lama-lama tambah banyak yang suka. Akhirnya kita sempat punya 300-an anggota tapi sekarang mencar lagi. Sebab kan beda-beda tujuannya. Sekarang kan juga udah ada perkumpulan lain,” papar Iyang HS, salah satu dedengkot perkumpulan ini.Pemilik lima sepeda ontel dari beragam tahun ini menambahkan, siapapun asal punya sepeda ontel atau kumbang (sepeda kuno) dan tertarik jalan-jalan keliling Jakarta dengan sepeda itu, bisa bergabung. ”Kita punya moto, senang kita makan bareng-bareng, susah kita gotong bareng-bareng. Kita enggak mau jalan sendiri-sendiri, semua anggota ini saudara kita,” tegas ayah tiga putri dan putra ini.Sepeda keluaran Belanda bermerk Gazelle jadi salah satu sepeda yang diincar penggemar sepeda ontel. ”Gazelle, Batavus, Raleigh, Burgres, pokoknya merek-merek Eropa. Kita enggak main sama merek-merek China dan Jepang,” lanjut Iyang, ”Kita cari sepeda seperti ini ke Jawa. Di sana masih banyak yang asli semua onderdilnya. Makin tua makin bagus. Harganya juga masih murah. Biasanya saya cari ke Klaten, Jogja, atau Jombang. Di Jawa Tengah, Jawa Timur masih banyak.”Untuk menaksir harga sebuah sepeda tentu tergantung merk dan kondisi sepeda yang akan dibeli. Setidaknya siapkan dana mulai Rp 500.000 sampai Rp 1,5 juta. Itu kalau hendak sekalian membeli aksesoris macam yang dimiliki Iyang.Di setang sepeda Iyang, merek Asele asal Jerman, bertengger lampu antik asal Jerman merk Bosch yang dibelinya seharga Rp 250.000. Belum lagi bel delman merek Valentino Bell bikinan Amerika. Tampilan sepeda dari tahun 1940an ini pun makin yahud. Iyang dan rekan lainnya tak mau kalah pamor, tentu saja, dengan makin maraknya perkumpulan pengguna sepeda non ontel. ”Di Eropa kan orang pakenya yang seperti ini. Sepeda kumbang, ontel.” ujar Iyang dengan bangga.Ah, jadi ingat satu bait lagu milik penyayi Inggris Katie Melua – yang sempat meledak di pasaran Eropa – sepeda tak hanya menyesakkan Eropa tapi juga China:There are nine million bicycles in BeijingThat’ s a factIt’s a thing we can’t denyLike the fact that I will love you till I die...WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

"Kereta Setan" Bikin Takjub Warga


"Kereta Setan" Bikin Takjub Warga

Artikel Terkait:
Jurnatan, Tinggal Nama
Napak Tilas Jalur Kereta Api Tertua
Naik Kereta Api ke Passer Baroe
Ini Ontelku, Mana Ontelmu

Sepeda motor Hildebrand Und Wolfmuller
Jumat, 7 Agustus 2009 12:43 WIB
"KERETA setan", begitu orang menyebut kendaraan bermotor pertama di Jawa yang tidak ditarik oleh kuda atau hewan lainnya. Pokoknya, "kereta setan" yang maksudnya sepeda motor itu bikin bengong orang yang melihat "kereta setan" ini melintas. Saking terkesima dengan sepeda yang bisa lari sendiri dengan kencang maka kendaraan itu pun diberi nama "kereta setan".Ternyata si kereta setan itu adalah kendaraan bermotor pertama di Jawa. Jadi, bukan mobil yang hadir pertama di Jawa, tapi sepeda motor. Orang pertama yang memiliki kereta setan ini adalah seorang masinis pabrik gula di Umbul, dekat Probolinggo. Namanya John C Potter, ia bukanlah orang Probolinggo tapi orang Inggris.Potter, demikian disebutkan oleh JJ de Vries dalam Jaarboek van Batavia en Omstreken, Batavia, sampai-sampai membuat Hildebrand dan Wolfmuller - pemilik pabrik sekaligus penemu sepeda motor - kepayahan mencari letak kota Probolinggo lantaran mereka harus mengirimkan pesanan sepeda motor, atas nama Potter, dari Jerman ke pelosok Jawa Timur kala itu.Hildebrand dan Wolfmuller tercatat sebagai penemu sepeda motor pertama di dunia pada tahun 1893. Nama mereka berdua menjadi nama pabrik sepeda motor, Hildebrand Und Wolfmuller. JJ de Vries menulis, bahkan bagi orang di masa sekitaran abad 20, sepeda motor temuan Hildebrand dan Wolfmuller dinilai ajaib. Bisa dibayangkan bagaimana orang di masa lampau ternganga dengan sepeda motor yang berjalan tanpa rantai, kopling, magnet, bahkan tanpa baterai dan seutas kabel pun.Sepeda motor ini hanya menggunakan dua silinder horisontal dan dua tabung yang dipanaskan dengan bahan bakar naphta (minyak bumi berwarna kuning). Untuk menjalankannya perlu waktu 20 menit. Bangkai motor ini ditemukan di tahun 1932. Tercecer di bengkel Potter. Bangkai ini kemudian disusun kembali sebagai barang antik dan ditempatkan di museum lalu lintas Surabaya. Bicara soal sepeda motor, akhir pekan ini, 8 dan 9 Agustus, Motor Besar Club (MBC) DKI Jakarta akan menggelar acara di kawasan Kota Tua yang dipusatkan di Taman Fatahillah termasuk Munas MBC di Museum Bank Mandiri. Acara bertema "Batavia Bike Week" ini digelar untuk pertama kali sebagai kepedulian kelompok ini dalam upaya memperkenalkan kawasan bersejarah di Jakarta sambil menyalurkan hobi terhadap motor besar.WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Refreshing Sejenak