Tampilkan postingan dengan label Jejak Langkah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jejak Langkah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 September 2009

Goyang Lidah ala Es Goyang dan Serabi Betawi

Goyang Lidah ala Es Goyang dan Serabi Betawi
Kamis, 16 Juli 2009 | 12:28 WIB

SIAPA tak ingat es goyang? Siapa tak kangen kepada es unik ini? Ya, es goyang -atau ada pula yang menyebutnya sebagai es lilin- memang bikin kangen. Disebut es lilin karena bentuknya panjang menyerupai lilin, meski sebetulnya es ini berbentuk batangan. Disebut es goyang karena proses pembuatannya memang harus digoyang-goyang.

Sayang, es zaman lampau ini sekarang tak mudah ditemukan. Jenis es ini kalah oleh serbuan es krim modern yang tak hanya memenuhi pasar swalayan, tapi juga meramaikan jalan di perumahan hingga pasar malam di lapangan besar semacam Monas.

Jika di masa lalu pedagang es goyang hanya menyediakan satu atau dua rasa. Kini pedagang menawarkan beberapa rasa plus lelehan cokelat. Ada juga pedagang yang menambah topping berupa remukan kacang tanah goreng.

Kini pembeli bisa memilih rasa cokelat, stroberi, durian, nangka, kacang hitam, kacang hijau, atau lainnya. Tentu bahan utama tetaplah santan yang kemudian dicampur dengan berbagai macam rasa tadi. Ukuran es ini pun berubah. Jika dulu bentuk es ini kotak memanjang, kini bentuknya agak sedikit mirip es krim modern. Bedanya tentu saja bahan, rasa, proses pembuatan, proses penjualan, dan pemasarannya.

Pemasaran es goyang rata-rata masih menggunakan cara kuno, yakni dari mulut ke mulut, karena penjual es ini jarang yang mangkal. Kalaupun mangkal, bisa ditebak, cari saja di sekolah-sekolah. Contohnya, pedagang es goyang yang mangkal di Sekolah Theresia, Menteng, Jakarta Pusat. Pedagang lain juga kebanyakan mangkal di sekolah-sekolah, pada jam sekolah. Selepas itu mereka akan berkeliling.

Sebatang es goyang bisa ditukar dengan uang Rp 1.500. Tak puas sebatang, wajar. Di lidah, rasa itu bikin penasaran. Apalagi jika sebelum membeli, konsumen melihat proses pembuatannya. Makin penasaran.

Adalah M Junaedi yang biasa berdagang es goyang di daerah Jembatan Besi, Jakarta Barat. Perjalanan panjang dilaluinya sejak tahun 1974, saat ia memulai usaha ini. Setiap hari, pukul 07.00-12.00, gerobaknya parkir di depan Sekolah Setia Kawan, Jembatan Besi. ”Abis itu keliling,” ujar Junaedi.

Serabi betawi
Penganan zaman lampau lainnya adalah serabi. Kebalikan dari es yang dingin, penganan ringan ini lebih enak disajikan panas-panas. Serabi bisa disebut camilan, tapi bisa juga disebut sebagai makanan untuk sarapan.

Makanan ini terbuat dari tepung beras campur santan, dibakar pada tempat yang terbuat dari tanah liat, berbentuk menyerupai penggorengan namun dalam ukuran yang jauh lebih kecil, dan lebih afdol jika menggunakan arang. Setelah matang, dimakan dengan kuah gula jawa bercampur santan.

Kini ada begitu banyak jenis serabi. Tetapi serabi yang kita singgung di sini adalah serabi tradisional yang kini sungguh sulit ditemukan di Jakarta. Kata orang, serabi jenis ini merupakan serabi ala Cirebon. Biasanya, makanan ini dijual pagi hari dan tanpa diberi topping apa pun.

Warta Kota beberapa kali menunggu pedagang serabi tradisional ini di kawasan Tanah Abang. Tepatnya di Jalan Kebon Jati. Hasilnya nihil. Akhirnya Warta Kota memutuskan menengok ke Kramatjati. Persis di depan pagar RS Sukanto, pernah ada pedagang yang dimaksud. Pedagang serabi yang masih menggunakan arang. Sayangnya, kini pedagang itu memilih pulang kampung. Sebagai pengganti, ada Tomi, pedagang serabi di kawasan itu juga. Hanya saja posisinya ada sebelum RS. Meski menggunakan wajan mungil dari tanah liat untuk membakar serabi, ia menggunakan kompor, bukan arang.

Jenis serabi yang dijual pun beragam. Mengikuti selera. Ada yang diberi pisang, cokelat, bahkan oncom. Harga satu pasang serabi Rp 3.000. ”Tapi ini serabi ala betawi, gulanya encer, enggak seperti serabi jawa yang gulanya agak kental,” tegas Tomi yang berdagang serabi tiap hari. Tekstur kue serabi ini cukup padat. Campuran santannya memang tak terlalu kental, tapi kuah gula santannya pas.


WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Rabu, 27 Mei 2009

Griya Malang Satelit Ae


" Different isn't always better, but the best is always different " Berbeda tidak selalu lebih baik, tetapi yang terbaik itu sudah pasti berbeda.....John Sifonis


Setelah kujalani kehidupanku selama kurang lebih dua tahun di kota Malang bagaikan seorang raja kecil waktu itu....aku mulai kembali mencari terobosan untuk mengembangkan sayap bisnisku......Dapat!!!!!!!!!!!.

Aku mempunyai ide untuk bisa memasarkan kartu telepon pertama kali di kota Malang dan setelah aku kontak distributor nya ternyata ada di Surabaya. Setelah hunting ke kota buaya tersebut aku mendapatkan informasi yang sangat aku perlukan untuk menjadi agen.

Sementara survey pasar aku lakukan aku mengajak agen yang sudah buka duluan di daerah citandui malang untuk bekerjasama dalam penetrasi pasar tersebut. Alhasil Aku bekerjasama dengan agen yang sudah exit duluan dengan sistem pembayaran diberi TOP dua minggu. Pola pemasaranku langsung ke terminal bis, angkot, stasiun KA, Hotel,Supermarket,Mall dan semua tempat pedagan kaki lima aku hunting dan aku ajak kerjasama dengan pola Konsinyasi....busyet dech....apa nggak takut dibawa lari?!!!!!

Ternyata komitment pedagang kecilpun sangat baik dan tidak punya sifat jelek...walau hanya aku titipin satu kios rata-rata 10 kartu telepon saja tetap aman dan terbayar LUNAS.


Suatu saat aku di telpon oleh distributor nya yang mengatakan : 'kalau kamu ingin duit ini saatnya cari duit karena harga kartu telepon besok akan naik'.

Tanpa banyak komentar lagi aku langsung susun strategi untuk mengantisipasi kenaikan harga tersebut. Mula-mula aku belanja seluruh persediaan kartu telepon di luar sub agenku sampai-sampai aku pinjam uang ke beberapa teman kuliahku dengan bunga 10% sebulan untuk berjaga-jaga kalau kurang dan aku hunting ke seluruh tempat sub agenku untuk mengambil kartu yang belum laku dengan alasan mau dirolling. Proses hunting dari sore hari hingga tengah malam untuk menarik semua kartu yang sudah di titipkan yang belum laku dan akhirnya ter-kumpul-lah satu box penuh dengan kartu telepon. Aku belum tahu setelah ini bagaimana , harga naik juga tidak tahu berapa naiknya !? trus nanti menghadapi sub agen nya lagi harus ngomong apa...juga nggak kepikir. Semalaman aku tidak bisa tidur karena kepikiran ini terus....sambil menunggu esok hari tiba...aku iseng mulai menghitung jumlah kartu telepon yang berhasil aku tarik kembali dan ternyata semuanya berjumlah 711 buah kartu dengan berbagai jenis voucher mulai harga lima ribu rupiah hingga duabelas ribu rupiah dan jika ditotal semuanya senilai tujuh juta lima ratus ribu rupiah, sementara aku dapat pinjaman dari beberapa teman terkumpul dua juta lima ratus ribu rupiah dan sudah dibelanjakan semuanya.


Saat pagi sudah tiba dan seperti biasanya tiap pagi aku selalu sarapan roti plus meses dan secangkir teh manis sambil membaca koran pagi ini untuk meng-update informasi dan teknologi.

Kurang lebih limabelas menit kemudian disaat baca koran di halaman sembilan ...tiba tiba terperanjatlah aku melihat tulisan mengenai berita "harga kartu telepon naik 70%". Tiba-tiba tanpa sadar aku berjingkrak kegirangan dan melompat dari tempat duduk di teras rumah sampai sajian sarapan roti dan teh manis tumpah di lantai. Tanpa kupedulikan lagi segera aku berkemas untuk bekerja dan bersiap untuk 'perang melawan sub agen'.....nantinya he.he.he....

Malam hari selepas kegiatan rutinitasku aku mulai menyusun strategi untuk memasarkan kartu telepon lagi ke sub agenku dengan strategi tunggu kartu telepon kosong di pasaran sambil berpikir langkah selanjutnya.


Hampir seminggu aku tidak hunting ke sub agen dan setelah itu baru aku mulai penetrasi pasar lagi dengan daftar harga yang sudah baru lagi. Pertama-tama ada beberapa agen yang merasa dibohongi dengan cara seperti ini karena tidak diberitahu kalo ada kenaikan harga....setelah aku beri alasan yang masuk akal bahwa aku juga hanya karyawan yang hanya menjalankan tugasnya...tidak bisa berbuat apa-apa juga , semua sub agenku bisa memahami lagipula sub agenku juga tidak secara langsung dirugikan karena sistem konsinyasi tersebut......( dasar orang marketing omongnya pinter ...dalam hati ). Setelah sepakat aku distribusikan kembali kartu telepon tersebut ke sub agenku dan seperti biasa mereka menjual dengan pricelist yang baru. Awalnya memang agak tersendat penjualannya karena kenaikan harga itu...lambat laun dan animo pemakaian kartu telepon itu sangat penting maka terjual juga akhirnya dalam waktu satu bulan.


Akhirnya lega dech...setelah aku lakukan stock opname dan diaudit oleh KAP "Sendiri" karena aku juga ada mata kuliah auditing dengan hasil WTS "Wajar Tanpa Syarat" dan berhasil membukukan laba bersih dari hasil perputaran kartu telepon itu sebesar delapan juta lima ratus ribu rupiah. Angka fantastis, luarbiasa dan bombastis menurutku hanya dalam tempo tiga bulan aku bisa mendapatkan uang sejumlah itu. Tanpa pikir panjang keuntungan tersebut langsung aku jadikan down payment untuk pembelian sebuah rumah pertamaku di perumahan Griya Malang Satelit di jalan Danau Sentani sebagai Assets Investasi untuk masa depan.

Luapan Bahagia rasanya waktu itu bisa memiliki rumah sendiri di umur 23 tahun dan bersiap untuk menata kehidupan yang lebih baik lagi.


Sampai akhirnya empat tahun sudah aku menetap di kota Malang ini dan bersamaan itu pula selesai sudah kuliahku dan bersiap untuk Wisuda Sarjana Ekonomi Akuntansi dengan masuk" the best ten cum laude". Selesai Wisuda aku tetap menjalankan kegiatan sehari-hari sebagai seorang marketing di empat perusahaan tanpa diketahui oleh masing-masing atasanku dan sekaligus mencoba meniti karier sebagai wirausaha muda.


Terima kasih Tuhan, kedua orang tuaku, kakak dan adikku serta teman-temanku yang selama ini selalu mensupport aku untuk menjadi lebih Dewasa dan MANDIRI.

Wartel Rampal Malang











CS Lewis mengatakan:" Kalau anda hidup untuk dunia mendatang anda peroleh yang sekarang ini sebagai satu paket, akan tetapi kalau anda hanya hidup untuk dunia yang sekarang, anda kehilangan kedua-duanya "

Ter-inspirasi oleh kata tersebut aku memberanikan diri untuk mengambil suatu keputusan yang amat penting dan terberat pada waktu itu. Coba anda bayangkan...sudah dapat kerja sambil kuliah...eh malah mau merantau lagi....apa sih tujuannya...?!!!.
Itulah aku ...orangnya paling tidak suka cepat puas diri.

Keputusanku sudah bulat dan tekadku untuk mencari hidup yang lebih baik selalu membayangi hatiku, maka berangkatlah aku dari kota Semarang menuju ke kota Malang sebagai Destination#2 ku tuk mencari sesuap berlian....he.he..he....

Dengan semangat empat lima kubawa perlengkapan secukupnya...tas ransel panjang 'eiger' berisi pakaian dan buku-buku, menuju terminal Bis Semarang menuju Malang. Setelah perjalanan kurang lebih 9 Jam tibalah aku di kota sejuk berhawa sangat dingin waktu itu dan untungnya aku punya jaket tebal sehingga tubuhku tidak kedinginan terkena udara pagi dan langsung menuju salah satu rumah kakak ku yang tinggal didaerah rampal.

Keesokan harinya aku mulai merasakan perubahan cuaca yang sangat berbeda sehingga bibir ku mulai pecah-pecah karena udara sangat cold dan terus dingin bahkan kemana-mana harus pakai jaket walau di siang hari.

Setelah kurang lebih tiga hari tinggal di sini...aku mulai mendaftar kuliah di salah satu kampus di kota dingin ini dan setelah melewati test dan persyaratan lainnya aku dinyatakan diterima di kampus itu...sejak saat itu aku melewati masa-masa opspek...inagurasi...dan rutinitas kuliah sebagai mahasiswa dan mengikuti kegiatan extra lainnya.

Tak terasa sudah tiga bulan aku menjalani kuliah di sini...berkat kakak ku, aku mendapatkan pekerjaan sebagai operator Wartel di Rampal dan sejak saat itu aku mulai kuliah sambil kerja lagi. Kegiatan kuliah sambil kerja ini kujalani dengan enjoy aja...dan tanpa terasa sudah enam bulan di sini ...dan saat itu aku mulai tertarik dengan bidang marketing karena di wartel selalu bertemu dengan semua old & new customer.

Tanpa pikir panjang aku mulai 'take action' dengan mencari lowongan pekerjaan di koran dan ada beberapa yang aku tandai untuk di kirimi CV ku. Satu persatu lowongan pekerjaan yang dibutuhkan, aku datangi secara langsung face to face dengan pimpinan perusahaan tersebut.
Ibarat siapa menanam maka akan menuai....maka selang beberapa hari aku mulai dipanggil untuk ikut wawancara dan berbagai test...dan akhirnya aku diterima disalah satu perusahaan otomotive mobil terbesar di negeri ini sebagai marketing di kota Malang.

Dengan demikian aku sangat sibuk sekali harus bisa membagi waktu untuk kuliah dan kerja di dua tempat yang berbeda. Bersyukur waktu itu bisa aku atasi dengan pembagian waktu yang tepat hingga atasanku tidak mengetahui kalo kerja di dua tempat....ini demi masa depan ...pikirku!!.
Selang beberapa minggu kemudian aku dipanggil lagi untuk proses wawancara di sejumlah perusahaan, dan nyaliku mengatakan siapa takut.......aku bergegas menuju perusahaan tersebut...lagi-lagi wawancara dan ikut psikotest lagi. Tak disangka dan tak dinyana...lagi-lagi aku diterima di perusahaan tersebut sebagai marketing disebuah lembaga keuangan non perbankan didevisi Valuta Asing di Malang. Tanpa pikir panjang aku sambar aja tawaran itu yang penting bisa bagi waktu dengan lainnya pikirku dan ternyata aku bisa bagi waktu lagi...mungkin karena pekerjaan ini semua berkecimpung dalam hal yang sama yaitu marketing semua dan kerjanya di luar kantor.

Satu lagi tawaran datang dari perusahaan terkenal dibidang Farmasi sebagai Detailer pun aku ambil tanpa pikir panjang nantinya menjalaninya seperti apa....yang penting waktu itu diterima dulu pikir nanti.....aku berpikir selama masih kuat dan sanggup kenapa tidak????!!!.

Berbekal pengalaman di beberapa perusahaan yang berbeda tersebut aku mulai merasakan perbedaan yang jelas bahwa sebenarnya hatiku jatuh hati dengan bidang marketing ini. Bayangkan dengan penghasilan yang aku dapatkan dari empat perusahaan itu sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupku dan membiayai kuliahku di dua tempat waktu itu, hanya bandanku terasa pegal karena hanya dapat tidur tiga jam setiap hari itupun tidur di kursi tamu di tempat kerja di wartel rampal, sampai-sampai harus beli pakaian setiap minggu karena tak sempat cuci terpaksa bawa ke laundry. Sungguh luarbiasa kejadian tersebut waktu itu dan aku semakin tertantang untuk mencari terobosan baru lagi di waktu mendatang.

Dengan penghasilan yang aku dapatkan ini aku memulai mencoba usaha sendiri sebagai usaha sampingan. Setelah aku mendapatkan Rumah kontrakkan di belakang kampusku, aku mulai mencoba dengan membuka usaha rental komputer dengan membeli empat set unit komputer bekas waktu itu masih type XT semua dan jual cold drink serta satu orang pegawai sebagai penjaga sekaligus operator. Selain itu aku memberdayakan dua dari tiga kamar lainnya aku sewa-kan ke teman kuliahku sebagai 'added value income' ku. Sampai akhirnya aku bisa meng-upgrade semua unit komputer tesebut menjadi sepuluh set unit type DX-2 versi terbaru dan tercanggih dimasa itu.

Setelah kuliah-kerja-usaha-ku mulai berjalan lancar aku sudah bisa menikmati indahnya hidup ini ( standarku sendiri ).....dari segi financial sudah aku dapatkan, setiap weekend aku selalu mengunjungi tempat wisata dan bermalam di berbagai obyek wisata di Jawa dan yang paling sering aku kunjungi untuk weekend adalah di Puncak Bromo hanya karena ingin melihat matahari terbit sambil menikmati indahnya kawah gunung bromo...it's very beautifull...!!!.

Hidup ini ternyata indah.......dan menyenangkan.....!!!!

Aku mulai meraih masa depan ku....aku ingin S U K S E S !!!

Selasa, 26 Mei 2009

Kuliah sambil kerja di pasar dargo





Aku dilahirkan dari keluarga TNI-AD yang sangat sederhana dan menurut catatan di Kartu Keluargaku aku anak ke enam dari delapan bersaudara...wow luar biasa banyak yha.... Menurut orang tuaku...ibuku sudah ikut program KB untuk mengantisipasi pepatah "banyak anak banyak rejeki" yang diinstruksikan pemerintah waktu itu ...yaitu Keluarga Banyak...he...he..he....



Any way...aku bersyukur kepada Tuhan YME dan ke dua ortuku yang telah melahirkan aku ke dunia ini...dan berharap aku bisa membahagiakan dan membuat bangga buat ortuku...Amien.


Sepanjang perjalanan hidupku dari sekolah TK Darmayu Siwi-SDN Cacaban I-SMPK Pendowo hingga SMAN Tidar kulalui di satu kota yaitu kota Magelang yang terkenal dengan oleh-oleh Gethuk Trio, Tahu Pojok & Pusat Pendidikan AKABRI.


Semenjak kecil aku bercita-cita ingin jadi seperti ayahku...The Real Soldier....gagah keliatannya kalo pakai baju doreng, berjuang membela negara...hemm...sampai detik akhir hayatnya pada tahun 2006 ayahku dipanggil Tuhan YME setelah melewati masa perawatan di RS Tidar karena Stroke dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan "Giri Darmo Loyo" Magelang



Detik-detik terakhir di SMA aku coba daftar ke AKMIL ingin menjadi seperti ayahku...dan berharap bisa ketrima dan meneruskan cita-cita ayahku yang sudah Pensiun waktu itu .

Tapi Tuhan berkehendak lain...aku tidak diterima...gagal di Panthokir Akhir...sedih..kesel..jengkel waktu itu mendengar hasilnya.....tapi aku tdk boleh sedih dan harus berjuang lagi.



Selepas SMA aku mencoba daftar UMPTN di ITB ( Tehnik Nuklir ) & UGM ( Tehnik Tambang ) dan berharap bisa ketrima di salah satu perguruan tinggi terbaik di negeri ini.

Detik terakhir...hasil pengumuman di koran suara merdeka dibolak-balik kok tidak ada nama ku...ternyata aku tidak lolos.

Waktu itu pupus sudah harapanku untuk bisa kuliah kalo tdk bisa ketrima di PTN sementara kalo kuliah di PTS biayanya mahal dan ortuku tidak sanggup.



Sejak saat itu aku mulai memutar otak dan pikiranku...aku mesti kuliah dalam hatiku..tetapi tidak akan membebani ortuku....mulailah aku merantau (1) ke kota yang sangat panas udaranya yaitu di Semarang dan aku menginap di salah satu rumah saudaraku di bedagan dan mulailah dengan kehidupan baru pertamaku selepas masa SMA dan jauh dari ke dua orangtuaku.


Di kota Semarang aku mendapat pekerjaan menjadi tenaga harian di pasar Dargo sebagai penjual berbagai macam jenis beras mulai dari beras dolog, umbuk, pandanwangi sampai rojo lele waktu itu.


Dari sinilah aku mendapat tantangan hidup untuk belajar mandiri yang tak sedikit sering kali berhadapan dengan para gali dan tukang angkut beras di pasar Dargo yang terkenal agak kasar dan arogan pada waktu itu.

Lumayan lah hasilnya...dengan gaji harian, aku mulai berpikir untuk dapat mencari alternatif untuk tetap bisa kuliah. Setelah dihitung-itung secara financial dan berpikir lebih jauh lagi, aku coba masuk ke UT untuk kuliah sambil kerja dan berharap tahun depan bisa coba lagi daftar di AKMIL .



Hari demi hari kujalani bekerja sambil kualiah, tak terasa sudah satu tahun lamanya aku di kota Semarang tuk meraih sebuah harapan....tentang masa depan!!!
Tak terasa waktu terus berlalu dan tak kusadari aku sudah mulai menikmati indahnya bekerja sambil kuliah....aku lupa akan cita-citaku waktu itu....ingin jadi AKABRI....aku terlena dengan semuanya itu..........dan tiba tiba aku putuskan untuk segera removal kembali.........