Tampilkan postingan dengan label Tour and Travelling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tour and Travelling. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 September 2009

Naik Kereta Uap Keliling Kota



Naik Kereta Uap Keliling Kota

Warta Kota/Pradaningrum');" width="70" border="0" height="52" hspace="2">Warta Kota/Pradaningrum');" width="70" border="0" height="52" hspace="2">
Kereta wisata Solo ini akan melaju dari Stasiun Purwosari, melewati Stasiun Solo Kota di Sangkrah dan kawasan Galabo, kawasan wisata kuliner khas Solo yang buka petang hingga dini hari.
Jumat, 25 September 2009 | 10:14 WIB

SORE menjelang petang, Jumat pekan lalu, sekali lagi warga di kota Solo dibikin terpana. Khususnya warga yang sedang melintas di sepanjang Jalan Slamet Riyadi. Itu terjadi ketika loko uap yang menarik kereta wisata kembali mencoba jalur dari Stasiun Purwosari - Stasiun Solo Kota di Sangkrah melintas di tengah kota. Suara peluit dari loko uap itu juga seperti mengundang warga untuk menyambut kereta wisata.

Sontak jalanan pun jadi macet. Kendaraan roda empat, motor, juga pejalan kaki, segera saja berjalan perlahan sekadar mengagumi bahkan ada yang segera merogoh kantong mereka mencari ponsel untuk kemudian mengabadikan atau membuat fim pendek.

Perjalanan kereta uap untuk wisata yang memang sudah sejak sekitar dua tahun lalu direncanakan oleh Wali Kota Solo Joko Widodo, akhirnya terwujud. Acara soft launch pekan lalu itu menandai beroperasinya dua gerbong kereta wisata menggunakan lokomotif uap C1218. Lokomotif yang dipinjam dari Museum Ambarawa ini bikinan Maschinenbau Chemnitz (Richard Hartmann) Jerman tahun 1896.

Pada plat yang menempel di lokomotif tertulis Hohenzollern A.G fur Lokomotiv BAU Dusseldorf tahun 1927, ini tampaknya tak sesuai dengan klasifikasi dan tahun pembuatan lokomotif yang sebenarnya. Beberapa peminat kereta api tua yang bergabung dalam komunitas Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) menyebutkan, berdasarkan buku JJG Oegema, De Stroomtractie op Java en Sumatra, tipe dan tahun pembuatan lok C12 berasal dari seri SS418 bikinan tahun 1896.

Sementara itu dua gerbong wisata yaitu tipe CR 16 dan CC 44 mampu menampung sekitar 80 orang. Gerbong buatan tahun 1906 itu terdiri atas CR 16 dengan kursi memanjang di kedua sisi dan di tengah serta CR 44 dengan kursi yang berhadapan. Kayu jati menjadi bahan paling dominan yang digunakan dalam gerbong ini.

Soft launch kereta wisata, yang belum diberi nama ini, digelar di kawasan Gladag Solo di mana kawasan tersebut jadi kawasan wisata kuliner petang hingga dini hari. Kawasan wisata kuliner itu dikenal dengan nama Galabo (Gladag Langen Bogan) Solo. Berbagai makanan khas Solo berjajar rapi dan bersih di sepanjang jalan raya ini. Setiap hari, mulai sekitar pukul 17.00 kawasan ini tertutup untuk kendaraan dan hanya diperuntukkan bagi pedagang makanan dan mereka yang ingin menyantap makanan khas Solo.

Semula, penandatangan MoU antara PT KA dan Wali Kota Solo akan dilakukan pada Jumat (18/9) ketika kereta kembali diuji coba namun rencana itu batal karena mendekati Idul Fitri. Menurut Joko Widodo, kereta wisata ini akan berangkat dua kali sehari dan penumpang bisa singgah di Museum Radya Pustaka, Museum Batik Wuryoningratan, termasuk di Galabo. Perjalanan Purwosari-Sangkrah sejauh 12 km pergi pulang akan menghabiskan dana Rp 3,2 juta. Maka jangan heran nanti jika tarif sewa kereta ini juga akan mahal.

Meski demikian, seperti nama kereta wisata, soal tarif juga belum bisa ditentukan. Nama seperti Jaladara dan Kreta Kluthuk diusulkan oleh pihak Solo dan Departemen Perhubungan namun belum dipastikan mana nama yang akan dipilih.

Dalam kesempatan berbeda, dosen Program Pascasarjana Lingkungan dan Perkotaan Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang, Tjahjono Rahardjo, mengutarakan pandangannya terhadap frekuensi pengoperasian kereta wisata tersebut, “Kalau setiap hari apa tidak riskan untuk loko-nya dan juga udara di sekitar kawasan yang dilewati kereta.” Kereta berlokomotif uap tentu akan menambah polusi di kota itu, asap hitam yang keluar dari corong lokomotif lama-kelamaan akan menghitamkan kota. Selain itu juga kondisi loko yang usianya sudah sepuh dikhawatirkan tidak akan kuat jika digunakan setiap hari, sehari dua kali. “Akhir pekan saja, Sabtu dan Minggu, misalnya, mungkin lebih baik,” tandasnya.


WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Senin, 15 Juni 2009

10 Pilihan Jalan-jalan Ke Nusa Tenggara Barat


10 Pilihan Jalan-jalan Ke Nusa Tenggara Barat

KOMPAS/AHMAD ARIF
Suasana pantai di kawasan wisata Senggigi, Batu Layar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.
/
Artikel Terkait:
Teluk Penyu dan Benteng Pendem Andalan Cilacap
Potensi Wisata Semarang Belum Tergarap
The Soul of Minangkabau Buka Tour de Singkarak
Juni, Kota Tua Jadi Kawasan Wisata Malam
Kalibaru Agro Resort, Rujukan Turis Mancanegara
Selasa, 5 Mei 2009 10:16 WIB
MATARAM, KOMPAS.com – Selain Bali sejumlah destinasi wisata di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sudah lama menjadi tujuan para wisatawan, baik wisatawan nusantara maupun mancanegara. Biasanya, mereka yang mengunjungi Bali tak lupa melewatkan beberapa hari ke Nusa Tenggara Barat, terutama mengunjungi tiga gili yang berdekatan dengan Pantai Senggigi yaitu Gili Trawangan, Meno, dan Air.Tapi, tentu saja NTB tidak hanya Senggigi dan gili-gilinya. Ada sepuluh tempat menarik yang pantang dilewatkan jika Anda mengunjungi provinsi itu. Pemerintah daerah setempat berkomitmen mengembangkan 10 kawasan wisata ini. Berikut 10 kawasan yang bisa menjadi pilihan liburan Anda ke NTB.1. Mataram Metro. Kawasan ini diorientasikan sebagai kawasan wisata kuliner dan budaya.2. Senggigi beserta tiga gili (Gili Trawangan, Meno dan Air) untuk wisata bahari dan MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) atau yang lazim disebut wisata konvensi.3. Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) untuk wisata alam dan pegunungan4. Koridor Tano, Empang, Gili Kramat, Alas Utan serta Agrotamase yang cocok untuk wisata bahari, budaya dan kuliner.5. Pulau Moyo dan kawasan Teluk Saleh untuk wisata bahari,6. Kawasan Gunung Tambora untuk wisata alam, pegunungan dan budaya7. Koridor utama Dompu-Sape juga berorientasi wisata bahari, budaya dan kuliner.8. Koridor selatan Pulau Lombok yakni Sekotong-Kuta untuk pengembangan wisata bahari, kuliner, budaya dan konvensi,9. Koridor Mataram-BIL (Bandara Internasional Lombok) yang berpotensi untuk pengembangan wisata alam dan budaya.10. Selalu Legini cocok untuk wisata alam dan pegunungan.

Rabu, 10 Juni 2009

The Haven "Somewhere but Nowhere"




The Haven
"Somewhere but Nowhere"

Indonesia Design
Dek-dek kayu yang menghubungkan kolam renang di taman seolah pematang-pematang yang ada di sawah
/
Artikel Terkait:
Pesona Geometris Rumah Putih
Rumah Resort di Bandung Barat
Cubic House, Alternatif di Pusat Kota
Our Mom's House
Konsep Hunian Tropis nan Mewah di Tepi Pantai

Selasa, 2 Juni 2009 18:55 WIB
Lush green paddy field inspires the concept of The Haven, a compound consisting of an apartment, villas, and hotel. Inside the compound, modern-tropical architecture merges seamlessly with the warm Balinese atmosphere.
Memasuki gerbang apartemen The Haven, keriuhan utara Kuta, Bali, perlahan menghilang, suasana berganti tenang. Usai melewati deretan anak tangga di pintu masuk, lobby dengan pemandangan ke taman dan kolam renang, menyambut. Nyaman dan menyenangkan, seperti saat menginjakkan kaki di halaman rumah. Meski masih di Seminyak, berdiam di lingkungan The Haven, seolah berada entah dimana.
Sebagai salah satu condominium hotel yang baru selesai dibangun, The Haven sengaja didesain dengan konsep yang berbeda. “Ini memang Seminyak, pusat keramaian dan hiburan. Tetapi saya ingin suasananya seperti di tengah sawah, ada gubug, air yang mengalir dan pematang-pematangnya,” ujar Budi Tirtawisata, pengusaha, pengembang The Haven.
Bagi Karl W. Princic, arsitek lansekap The Haven, ide sawah yang dikemukakan pihak developer, memberikan banyak inspirasi saat ia dan arsitek Antony Liu merencanakan desain bangunan dan lansekap The Haven. “How can we keep the feeling of sawah,“ ujar Karl Princic menirukan ucapan Budi Tirtawisata.
Nuansa sawah harus tetap ada pada bangunan yang akan didirikan. Seperti terlihat pada denah, lokasi The Haven terletak memanjang di dua sisi jalan. Yaitu jalan Raya Seminyak dan sebuah gang kecil di jalan Arjuna. Bentuknya yang memanjang menjadikan lahan dapat dibagi menjadi tiga fungsi yaitu apartemen, villa dan hotel.
Maka selain pohon kelapa dan kamboja, kita melihat banyak airis, tumbuhan yang daunnya mirip padi, ditanam hampir di seluruh area kompleks peristirahatan. Airis juga tumbuh subur di beberapa bagian atap villa yang sengaja didesain mendatar, membentuk bentangan persis seperti kotak-kotak sawah yang menghijau.
Lansekap The Haven memang didasarkan pada konsep different stages of sawah. Awalnya, sawah masih berupa lahan kosong yang digenani air. Kemudian sawah ditanami padi yang tumbuh dan tetap memerlukan pengairan.
Maka dimulai dari bagian hotel, eksterior bangunan berlantai empat dengan 96 kamar ini, menggambarkan tahap awal proses. “Sawah dengan genangan air itu seperti reflecting pond,” ujar Karl Princic. Itulah sebabnya terlihat banyak kolam di sekitar lobby. Tepat di bawah restoran juga terdapat air terjun besar berbentuk tangga. Selanjutnya, hamparan hijau airis yang menutupi sebagian atap villa-villa The Haven, melukiskan sawah dengan tanaman padi. Pada tujuh unit villa yang semuanya dilengkapi kolam renang pribadi ini, suasana desa sangat terasa. Bangunan villa didesain seperti layaknya sebuah kampung di Bali dengan atap ilalang dan gang-gang kecilnya.
Sementara apartemen The Haven terdiri dari 2 blok yang saling berhadapan. Lansekap di antara kedua bangunan tinggi itu, juga didesain berdasarkan ide sawah. Itu tergambar pada kumpulan airis di sepanjang pinggiran taman apartemen serta dek-dek kayu yang menghubungkan kolam-kolam renang yang ada di taman. Dek-dek itu, seolah pematang-pematang yang ada di sawah.
Di sini, kolam-kolam renang sengaja diletakkan zig zag mengikuti bentuk lahan keseluruhan kompleks yang memang tidak beraturan. Peletakan seperti itu dimaksudkan supaya diperoleh desain yang lebih dinamis. Tidak monoton apalagi membosankan.
Konsep sawah sendiri, menyebabkan tak banyak aksen pohon di area ini. Selain beberapa kamboja, hanya ada pohon tabebuya, suar atau trembesi dan cempaka yang ditanam di situ. Bila kamboja-kamboja yang telah tua ditanam untuk memperkuat karakter dan nuansa Bali yang ingin dimunculkan, tidak demikian dengan pohon-pohon lainnya.
Menurut Karl Princic, keleluasaan pribadi para tamu adalah alasan lain mengapa pohon-pohon besar seperti tabebuya dan trembesi diletakkan di beberapa titik tertentu dari apartemen dan hotel. “Selain sebagai penghijauan, kami membutuhkan pohon-pohon besar itu untuk menjaga privasi tamu,” jelasnya.
Pohon tabebuya ditanam di depan lobby apartemen yang menghadap kolam renang, untuk melindungi para tamu yang sedang berenang. Lalu pohon trembesi dan cempaka ditanam di sudut-sudut perbatasan apartemen dan villa untuk membatasi pandangan tamu apartemen atau hotel ke arah villa.
Hal senada juga diungkap arsitek Antony Liu. Menurutnya, sejak awal, bukan hanya desain dan konsep saja yang disiapkan secara matang oleh para konsultan yang terlibat di dalam proyek The Haven. Soal privasi tamu, terutama tamu apartemen dan villa, pun tak luput dari perhatian.
Lalu sebagai bangunan publik, hotel terbuka bagi siapapun yang datang untuk menginap atau hanya untuk sekedar menggunakan fasilitas restoran atau gym yang ada. Sebaliknya, apartemen meski merupakan bangunan dengan banyak unit seperti hotel, bersifat pribadi. Hanya penghuni apartemen saja yang bisa masuk ke dalam unit atau menggunakan fasilitas-fasilitasnya.
Berdasarkan perbedaan itu, hotel diletakkan di sisi jalan yang ramai, menghadap ke Jalan Raya Seminyak, sementara bangunan apartemen ditempatkan pada jalan kecil yang relatif sepi. Dengan demikian, privasi penghuni apartemen terjaga. Meskipun demikian, dibandingkan dengan apartemen apalagi hotel, villa bersifat lebih tertutup lagi. Mereka yang menginap di villa biasanya menginginkan keleluasaan pribadi yang sangat tinggi. Itulah sebabnya mengapa villa The Haven diletakkan di antara bangunan hotel dan apartemennya.
The Haven memang mengutamakan keleluasaan dan kenyamanan tamu-tamunya. Fasad apartemen yang idenya diperoleh dari motif kotak-kotak kain yang disarungkan pada patung-patung di Bali misalnya, sebenarnya juga didesain untuk menambah privasi penghuni apartemen.
Menariknya, balkon di tiap unit apartemen didesain luas, bahkan untuk meletakkan kasur berukuran cukup besar. Dari situ, tamu apartemen bisa menikmati pemandangan taman dan kolam renang, tak ubahnya seperti sedang duduk di balai bengong pada rumah tinggal. Sementara interior kamar didesain dengan warna lembut dari kayu white oak dengan finishing touch yang didominasi warna putih dan dipadukan dengan warna-warna modern seperti abu-abu tua.
Interior kamar villa pun ditata senatural mungkin dengan warna-warna lembut dan cozy. Di sini, warna kayu bangkirai yang memberikan kesan yang ringan dipadukan dengan warna muda, kayu white oak. Sementara kehadiran lantai teraso Bali, gorden berbahan linen dengan warna broken white menjadikan suasana kamar lebih fresh.
Seperti apartemen, semua ruang di dalam villa juga mendapatkan view yang langsung ke kolam renang atau dek. Bahkan semua kamar mandi villa dikelilingi oleh taman. Rancangan yang sangat detail dan teliti ini dimaksudkan agar konsumen mendapatkan pengalaman yang berbeda saat menginap di hotel, apartemen atau villa di The Haven. Seperti kata developernya, The Haven memang disiapkan dengan konsep “somewhere but nowhere”.
Mengenai konsep dan pemikiran arsitek Antony Liu dan rekannya, Ferry Ridwan ketika mendesain bangunan ini bisa dilihat di majlah Indonesia Design edisi 32 ‘Hot Estates in Bali’ yang menampilkan 6 properti terbaru yang berlokasi di Pulau Dewata tersebut.

Dirancang Antigempa, Tahan 100 Tahun


Dirancang Antigempa, Tahan 100 Tahun

KOMPAS/RADITYA HELABUMI
Warga menyusuri Selat Madura saat air surut untuk mengumpulkan kerang di sekitar proyek Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) di kawasan Tambak Wedi, Surabaya, Jawa Timur. Jembatan Suramadu yang menghabiskan dana sebesar Rp 4,5 triliun itu telah siap dioperasikan dengan membawa harapan baru terjadinya percepatan pembangunan di kawasan Madura.
/
Artikel Terkait:
BERITA FOTO: Jelang Peresmian Jembatan Suramadu
Gubernur: Suramadu Harus Tingkatkan Kesejahteraan Madura
Berat Kendaraan Lewat Suramadu Dibatasi
Setelah Suramadu, Lantas Apa Lagi?

Selasa, 9 Juni 2009 10:32 WIB
AB Kuniawan/Try Hariyono
KOMPAS.com — Berdirinya Jembatan Suramadu merupakan tonggak sejarah baru dalam pembangunan konstruksi prasarana perhubungan di Indonesia. Jembatan antarpulau sepanjang 5.438 meter yang akan diresmikan besok (10/6) itu bukan hanya yang terpanjang di Indonesia, tetapi juga di Asia Tenggara.
Sebagai jembatan yang menghubungkan dua pulau, sesungguhnya Suramadu (Surabaya-Madura) merupakan jembatan kedua setelah rangkaian jembatan Barelang (Batam-Rempang-Galang) yang selesai dibangun tahun 1997. Enam jembatan dengan berbagai tipe yang menghubungkan tujuh pulau kecil di Provinsi Kepulauan Riau ini merupakan landmark keberhasilan dan kemandirian anak bangsa dalam membangun jembatan antarpulau.
Sebelum Suramadu dibangun, timbul keraguan, apakah mungkin membangun jembatan di daerah patahan dan gempa? Bagaimana dengan tiupan angin di laut Selat Madura yang terkenal kencang, apakah tidak akan memengaruhi konstruksi jembatan?
Penelitian pun akhirnya dilakukan secara mendalam selama 2003-2004. Penelitian yang lebih bersifat technical study dilakukan terhadap 12 item yang kebanyakan berupa parameter tanah.
Dari sisi seismic hazard analysis, misalnya, diperoleh kesimpulan, di sekitar lokasi jembatan tidak ditemukan suatu patahan aktif. Berdasarkan katalog gempa juga tidak ditemukan gempa dengan magnitude di atas 4 skala Richter sehingga kondisi di sekitar lokasi jembatan cukup stabil.
Kajian mendalam juga dilakukan terhadap kontur dasar laut, arus air laut, serta pengaruh pasang terhadap jembatan. Ternyata semuanya sangat memungkinkan untuk dibangun jembatan yang menghubungkan dua pulau. Adapun untuk angin, berdasarkan kajian, ternyata angin yang melintang kecepatannya sekitar 3,6 kilometer per jam sampai maksimal 65 kilometer per jam.
Tahan gempa
Jembatan Suramadu yang pemancangan tiang pertamanya dilakukan pada 20 Agustus 2003 oleh Presiden Megawati Soekarnoputri saat ini bisa tahan terhadap guncangan gempa sampai 7 skala Richter. Jembatan ini pun dirancang dengan sistem antikorosi pada fondasi tiang baja.
Karena menghubungkan dua pulau, teknologi pembangunan Jembatan Suramadu didesain agar memungkinkan kapal-kapal dapat melintas di bawah jembatan. Itulah sebabnya, di bagian bentang tengah Suramadu disediakan ruang selebar 400 meter secara horizontal dengan tinggi sekitar 35 meter.
Untuk menciptakan ruang gerak yang lebih leluasa bagi kapal-kapal, di bagian bentang tengah Suramadu dibangun dua tower (pylon) setinggi masing-masing 140 meter dari atas air. Kedua tower ini ditopang sebanyak 144 buah kabel penopang (stayed cable) serta ditanam dengan fondasi sedalam 100 meter hingga 105 meter.
”Total panjang tower sekitar 240 meter. Ini sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya,” kata Direktur Jenderal Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum Hermanto Dardak.
Kuat 100 tahun
Secara keseluruhan, pembangunan Suramadu menghabiskan sekitar 650.000 ton beton dan lebih kurang 50.000 ton besi baja. Tak heran, dinas pekerjaan umum mengklaim Suramadu sebagai megaproyek yang menghabiskan dana total mencapai Rp 4,5 triliun. Jembatan ini dirancang kuat bertahan hingga 100 tahun atau hampir menyamai standar Inggris yang mencapai 120 tahun.
Karena berada di tengah lautan, Suramadu berpotensi terkendala faktor angin besar yang potensial terjadi di tengah lautan. Untuk memastikan keamanan kendaraan yang melintas di atas Suramadu, Departemen Pekerjaan Umum akan membangun pusat monitoring kondisi cuaca, khususnya angin.
”Jika kecepatan angin sudah mencapai 11 meter per detik atau sekitar 40 kilometer per jam, jembatan harus ditutup untuk kendaraan roda dua demi keselamatan pengendara,” ujar Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto.
Jika kecepatan angin bertambah hingga 18 meter per detik atau sekitar 65 kilometer per jam, jalur untuk kendaraan roda empat akan ditutup. Langkah ini semata-mata untuk keselamatan dan kenyamanan pengendara. Adapun konstruksi jembatan akan tetap aman karena Jembatan Suramadu dirancang tetap kokoh meski ditempa angin berkecepatan lebih dari 200 kilometer per jam.
Bukan cuma kuat dari terpaan angin, Jembatan Suramadu juga didesain mampu menopang kendaraan sesuai standar as atau axle di daratan. Dengan demikian, Suramadu diperkirakan mampu menahan beban dengan berat satu as kendaraan sekitar 10 ton.
Cukup lima menit
Setelah diresmikan besok, diperkirakan Jembatan Suramadu akan dilintasi 8.000-9.000 sepeda motor per hari serta sekitar 4.000 kendaraan roda empat per hari.
Jumlah ini berdasarkan perhitungan sebelumnya, kendaraan yang melintasi Ujung-Kamal dengan menggunakan kapal feri sekitar 2,4 juta sepeda motor per tahun (62 persen) serta 1,5 juta kendaraan roda empat per tahun (38 persen).
Selain bakal padat, jembatan ini pun pasti akan sangat membantu masyarakat karena waktu tempuh Surabaya-Madura bisa dipersingkat. Jika sebelumnya menggunakan feri dibutuhkan waktu sekitar 30 menit, sekarang dengan menggunakan Suramadu cukup ditempuh lima menit.
Sempat tersendat
Pembangunan Suramadu dalam perjalanannya sempat menemui kendala dana. Terhambatnya pencairan dana menyebabkan pembangunan approach bridge atau jembatan pendekat sisi Surabaya sepanjang 672 meter tersendat September 2008. Pemerintah Provinsi Jawa Timur akhirnya menalangi dana pembangunan melalui Bank Jatim sebesar Rp 50 miliar sebelum dana pinjaman dari Bank Exim of China sebesar 68,9 juta dollar AS cair.
Studi pembangunan yang kurang sempurna menyebabkan perkiraan biaya pembangunan juga meleset, seperti tiang pancang jembatan yang awalnya hanya didesain setinggi 45 meter akhirnya bertambah menjadi sekitar 90 meter. Karena itu, dari estimasi awal nilai kontrak sebesar Rp 4,2 triliun, biaya pembangunan akhirnya membengkak hingga Rp 4,5 triliun.
Pembiayaan pembangunan Suramadu 55 persen ditanggung pemerintah dan 45 persen sisanya pinjaman dari China. Dari total biaya pembangunan Suramadu sebesar Rp 4,5 triliun, sekitar Rp 2,1 triliun di antaranya berutang kepada China. Mahalnya pemikiran dan biaya pembangunan Suramadu diharapkan mampu menumbuhkan geliat ekonomi Tanah Air, terutama Jawa Timur.
(Yuni Ikawati)

Selasa, 09 Juni 2009

Ikan Bakar Muara Angke Rasa Jimbaran




Ikan Bakar Muara Angke Rasa Jimbaran

KOMPAS/PRIYAMBODO
Menu ikan bakar yang lezat
/
Rabu, 3 Juni 2009 16:42 WIB
BEGITU memasuki kawasan tempat penjualan ikan bakar Muara Angke, Pluit, Jakarta Utara, serasa berada di Pantai Jimbaran, Bali. Bila pengunjung memilih warung ikan bakar di posisi paling utara dermaga, mereka bisa menyaksikan pemandangan kelap-kelip lampu kapal atau bagan di malam hari. Bedanya, kalau di Jimbaran pengunjung bisa menyaksikan ke indahan bukit Uluwatu di tengah lautan, di Muara Angke orang tidak bisa melihat Kepulauan Seribu pada malam hari."Kalau mau memandang keindahan Kepulauan Seribu dari dermaga ini hanya bisa pada siang hari," kata Komar, tukang ojek yang biasa mengantar penumpang ke Muara Angke.Tak berbeda dengan pantai Jimbaran, di Muara Angke pengunjung juga dihibur pemusik jalanan. Sambil menikmati lezatnya cita rasa ikan baronang bakar, cumi, udang, dan kepiting, pengunjung juga bisa meneguk es kelapa muda, untuk menyejukkan kerongkongan.Ikan bakar Muara Angke dari segi cara memasak dan penataan tempat memang memiliki banyak kesamaan dengan ikan bakar di Pantai Jimbaran karena sebagian pedagang Muara Angke pernah berguru ke Jimbaran. "Saya salah satu yang pernah belajar ke Jimbaran Bali, pada tahun 1999," kata Hj Leha (45), salah seorang pemilik warung.Leha yang asli Jawa Tengah, bersama beberapa pemilik warung ikan bakar lainnya, dibiayai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelola Kawasan Pelabuhan Perikanan dan Pendaratan Ikan (PKPPPI) Muara Angke untuk belajar ke Jimbaran. Selama hampir sebulan di sana, mereka kembali ke Muara Angke dan mengelola usaha ikan bakar. Mereka yang pulang dari Jimbaran inilah yang menjadi pelopor berdirinya 29 warung ikan bakar di Muara Angke. Naman tempat makan ini kemudian bergema di Jakarta. Aneka jenis ikan bakar tersedia. "Ikan baronang paling banyak pemesannya. Harganya satu porsi bisa mencapai Rp 55.000," kata Leha.Menurut Leha, tempat makan ini ramai pengunjung pada malam hari di hari libur dan akhir pekan. "Kalau di hari-hari biasa agak sepi. Begitu pula pada siang hari," katanya. Eva Eliza (33), pemilik warung lain, menuturkan, kalau di siang hari pelanggan ikan bakar biasanya dari kalangan karyawan kantor. "Yang makan di sini umumnya karyawan bank, telkom, dan perusahaan-perusahaan besar," kata Eva yang membuka warungnya hingga pukul 03.00. Di akhir pekan, penghasilannya bisa mencapai Rp 3 juta per hari dan pada hari biasa hanya sekitar Rp 500.000. Di Muara Angke, ikan bawal dijual Rp 35.000 per kg, baronang Rp 60.000, kakap Rp 50.000, cumi Rp 35.000, dan kepiting Rp 50.000per kg.Untuk menjangkau Muara Angke sesungguhnya tidak sulit. Kawasan pemukiman nelayan tradisional itu hanya sekitar 7 km dari Kota Tua. Angkutan umum ke sana beroperasi hampir 24 jam. Dari stasiun kota, orang bisa naik bus metromini nomor 30.Hanya saja pada malam-malam di akhir pekan, kawasan pelabuhan Muara itu sering macet. Mobil-mobil hanya bisa beringsut bak keong di antara ojek, bus, bemo, becak, dan lalu lalang pengunjung. Kemacetan sudah terjadi mulai dari Pasar Muara Angke yang siang malam ramai dibanjiri pengunjung. Soal lain, kawasan Muara Angke bukanlah tempat yang cukup bersih. "Kalau warung ikan bakar memang bersih, namun di luar sana agak kotor, air tergenang, dan menimbulkan bau kurang sedap," kata Asrori, seorang pengujung. Air pasang (rob) menjadi masalah yang tidak terselesaikan di kawasan itu.

Liburan Bersama Ancol Beyond Imagination


Liburan Bersama Ancol Beyond Imagination

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
Selain sebagai tempat berlibur, kawasan pantai di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, juga digunakan warga untuk berolahraga pagi. Seperti aktivitas warga yang berolahraga di jembatan pantai Ancol pada hari Minggu.
/

Sabtu, 6 Juni 2009 11:14 WIB
Jakarta, Kompas.com - Mengisi liburan sekolah mendatang, Ancol Taman Impian menyiapkan berbagai suguhan yang menarik. Untuk pertama kalinya, Ancol menampilkan Spiderman Live Show dan launching 4D Movie Turtle Vision.Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, Budi Karya Sumadi, menjelaskan bahwa pada liburan kali ini tema yang diusung oleh Ancol adalah Beyond Imagination. Ini salah satu bentuk inovasi dan kreatifitas yang Ancol tampilkan karena Ancol Taman Impian ada karena imajinasi melalui theme park dan berbagai event berskala nasional dan internasional.Lebih lanjut Budi mengatakan sebagai bentuk komitmen inovasi, Ancol Creative City akan terus melakukan inovasi kreatif. "Ancol bukan hanya menampilkan content yang baru dan inovatif tetapi juga mementingkan konteks rekreasi yang edukatif, yang disebut dengan edutainment," ungkap Budi.4D Movie Turtle Visionsarat dengan unsur edukasi karena banyak menggambarkan tentang konservasi alam dan pemahaman mengenai fenomena global warming dengan cara yang lebih mudah dipahami oleh anak-anak.Sementara itu Corporate Communication Manager PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, Sofia Cakti, menambahkan variasi acara liburan spektakuler yang dapat dinikmati selama liburan sekolah antara lain The Amazing Spiderman International Live Action Show.Pertunjukan bertaraf internasional ini akan menampilkan atraksi mendebarkan Spiderman saat melawan musuhnya Green Goblin dilengkapi dengan atraksi melayang di udara dan efek kembang api yang spektakuler. Atraksi dari Australia ini akan hadir di Hall Rama Shinta, Dunia Fantasi, Ancol Taman Impian.Sofia menjelaskan International Show ini akan menghibur pengunjung selama pekan liburan sekolah mulai dari tanggal 20 Juni - 20 Juli 2009 dengan durasi pertunjukan selama 45 menit, yang akan dimainkan sebanyak tiga kali pertunjukan dalam satu hari, yaitu pukul 14.00 - 14.45, 16.00 - 16.45, dan 18.00 - 18.45.Selain itu Ancol juga akan me-launching 4D Movie Turtle Vision.yang akan menghibur keluarga. Sofia menjelaskan 4D Movie kali ini mengisahkan petualangan kura-kura bernama Sammy bersama sahabatnya di alam bawah laut. Dalam petualangannya Sammy menjelajah ke dalam laut, bermain bersama gurita raksasa dan menemukan pengalaman baru terdampar di sungai Amazon bertemu dengan sekumpulan ikan piranha yang sangat ganas.4D Movie ini juga sarat akan pendidikan terutama bagi anak-anak karena banyak menggambarkan tentang konservasi alam dan pemahaman mengenai fenomena global warming dengan cara yang lebih mudah dipahami oleh anak-anak. (Agus Himawan)

Burung MONAS




KOMPAS/LASTI KURNIA
Rombongan burung dara menikmati cuaca Jakarta yang cerah berawan di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat.
/
Artikel Terkait:
Ribuan Warga Jakarta Kampanye Anti Udara Kotor
Minggu Besok SBY Bersepeda, Mau Gabung?
Monas dan Thamrin Jadi Pusat Kegiatan
Rusa di Monas Kekurangan Rumput
Delman Monas Sejarahmu Kini
Minggu, 7 Juni 2009 04:37 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Hiburan gratis air mancur laser dengan gaya menari dan menyanyi hingga kini tetap diminati banyak pengunjung Monumen Nasional (Monas) Jakarta Pusat. Seorang pengunjung Monas dan juga warga Kota Jakarta, Andi, Sabtu (6/6), mengakui pesona air mancur laser menari atau dikenal dengan air mancur pesona Monas yang dipertunjukkan setiap Sabtu dan Minggu malam menarik perhatian banyak pengunjung. "Ini yang membuat saya dan teman-teman setiap sabtu malam betah berlama-lama tinggal di sini," katanya saat ditemui di Monas. Menurut Andi, taman di Monas selama ini dimanfaatkan oleh keluarga untuk piknik atau sekedar makan malam bersama. Begitu juga bagi mereka yang sudah memiliki pasangan, duduk berdua di atas rerumputan, menikmati keindahan air mancur pesona Monas di malam hari. Atraksi lampu laser, kata dia, menarik minat warga Jakarta dan juga warga di luar Jakarta. Tidak heran bila malam Minggu tiba, banyak pengunjung yang sengaja menyempatkan waktu berkunjung ke Monas. Sementara itu, pengunjung lainnya Iwan mengatakan adanya air mancur laser di Monas itu merupakan kemajuan, seperti halnya yang sudah dilakukan di negara-negara Eropa. "Biar terus diminati pengunjung, sarana dan prasarana perlu dilakukan inovasi terus menerus," katanya.Selain itu, kata Iwan, kebersihan di lingkungan Monas harus diperhatikan terus agar para pengunjung tetap kerasan dan betah untuk berlama-lama tinggal di Monas. Kepala Sub Bagian Tata Usaha Unit Pengelola Monas, Ageng Darmintono, mengatakan kondisi air mancur laser hingga saat ini masih bagus karena perawatan dilakukan terus menerus. "Air mancur ini merupakan salah satu inovasi untuk meningkatkan jumlah pengunjung di Monas," ujarnya. Air Mancur Pesona Monas ini dibangun di lokasi air mancur lama yang dibangun Gubernur DKI Ali Sadikin pada tahun 1974 dengan biaya renovasinya mencapai Rp26 miliar. Renovasi air mancur ini bertujuan untuk memaksimalkan fungsi ruang terbuka hijau di taman Monas yang merupakan taman kota terbesar di Asia Tenggara. Air Mancur Pesona Monas memiliki 33 buah pompa air, 300 nozle, 717 lampu air, juga ada sinar laser model Coherent Sabre Technology German dengan 13 W White Light Laser. Konfigurasi pancaran air dari 33 pompa air, sorotan lampu air, dan sinar laser itu lah yang bisa membuat air mancur seperti terlihat sedang menari.

Jejak Penguasa di Merdeka Utara


Jejak Penguasa di Merdeka Utara

Warta Kota/Irwan Kintoko
Jejak kaki di trotoar Jalan Medan Merdeka Utara.
/

Selasa, 9 Juni 2009 12:34 WIB
SEJUMLAH pejalan kaki tidak begitu peduli ketika melintas di sepenggal trotoar di Jalan Merdeka Utara, Gambir, Jakarta Pusat, Minggu (3/5) pagi. Padahal jika dicermati, di penggalan trotoar tersebut terdapat "monumen kecil" yang dibuat mantan pemimpin di republik ini.Para pejalan kaki yang saat itu melintas banyak yang tidak mengetahui bahwa trotoar yang dilaluinya tersebut punya cerita. Secara nyata memang tidak banyak yang bisa diceritakan di "monumen kecil" itu karena hanya cetakan kaki. Tapi, cetakan-cetakan kaki itu bukan kaki milik orang sembarangan, melainkan milik enam orang yang pernah memimpin bangsa ini.Dari sisi yang paling timur di totoar Jalan Merdeka Utara itu tampak cetakan sepatu -bukan kaki- milik Presiden Soekarno. Dalam cetakan semen itu tertulis dengan huruf besar nama Dr Ir Soekarno sebagai Presiden RI pertama periode 1945-1967 sekaligus Proklamator Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Tidak jauh dari cetakan sepatu Soekarno, ada cetakan kaki Soeharto.Di bawah cetakan kaki Jenderal Besar Soeharto itu tertulis periode jabatannya sebagai Presiden RI kedua, 1967-1998. Sayang, semen pelapis di sekeliling pinggiran cetakan kaki Soeharto itu mulai banyak yang terkelupas, seperti kurang diperhatikan. Cetakan kaki Presiden RI ketiga 1998-1999, Baharuddin Jusuf Habibie, terletak di samping cetakan kaki Soeharto.Cetakan kaki KH Abdurrahman Wahid, Presiden RI keempat (2000-2001), juga ada. Pelindung cetakan kaki Gus Dur -panggilan Abdurrahman Wahid- dari semen juga mulai terkelupas. Cetakan kaki Presiden RI kelima Megawati Soekarnoputri juga tercetak tebal.Megawati yang sekarang kembali mencalonkan diri sebagai presiden ini memimpin Indonesia tahun 2001-2004. Yang terakhir adalah cetakan kaki milik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Di bawah namanya, tercantum pula masa kepemimpinnya, 2004-2009. SBY juga kembali dicalonkan menjadi presiden ketujuh.Cetakan kaki yang sama namun berbeda orang juga bisa dilihat di trotoar di Jalan Medan Merdeka Selatan. Di penggalan trotoar yang berada persis di belakang halte bus Transjakarta, Monas, itu terdapat cetakan sepatu Letjen (Purn) Tjokro Pranolo, Gubernur DKI Jakarta periode 1977-1982, cetakan kaki Letjen (Purn) HR Soeprapto (1982-1987) dan Letjen (Purn) Wiyogo Atmodarminto (1987- 1992), serta Jenderal (Purn) Surjadi Soedirdja (1992-1997).Cetakan kaki terakhir yang ada di atas trotoar itu adalah milik Sutiyoso yang pernah menjadi orang nomor satu di DKI Jakarta ini dua periode, tahun 1997- 2007.Menurut Kepala Seksi Ornamen Kota Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta Djauhar Arifin, cetakan-cetakan kaki para mantan Presiden dan Presiden RI itu asli, termasuk cetakan sepatu milik Presiden Soekarno. "Para presiden itu menginjakkan kakinya di semen yang kemudian dikeringkan dan diabadikan dalam cetakan kaki itu," katanya.Di dekat cetakan-cetakan kaki tersebut terpasang beberapa selang air mancur. Namun, air mancur yang ditutup tembok keramik hitam setinggi sekitar setengah meteran itu jarang sekali dinyalakan.Di keramik yang mulai terlihat kotor itu mantan Gubernur DKI Sutiyoso menulis, "Kita tidak bermaksud mengagungkan masa lampau. Namun, kita tidak boleh membuang begitu saja tanpa makna. Karena, napak tilas masa silam dapat digunakan sebagai pelajaran untuk menapakkan langkah lebih mantap di masa depan."Wajar jika banyak orang yang tidak tahu bahwa ada "monumen kecil" di bawah air mancur tersebut. Apalagi dibandingkan dengan trotoar di Jalan Merdeka sisi yang lain, trotoar di Jalan Medan Merdeka Utara paling sepi dilewati orang.Soal peletakan cetakan-cetakan kaki di trotoar Jalan Merdeka Utara, kata Djauhar, karena lokasi tersebut berseberangan dengan Istana Negara yang sejak dulu menjadi tempat para Presiden itu menjalankan tugas kenegaraan. (Irwan Kintoko)

Nikmatnya Nasi Goreng Arang Bumen Jaya


Nikmatnya Nasi Goreng Arang Bumen Jaya

Wartan Kota/Dian Anditya MutiaraSelasa, 19 Mei 2009 18:15 WIB
DI negeri ini, nasi goreng mungkin bisa dijuluki ’makanan generik’. Nasi goreng ada di mana-mana, dari rumah makan mentereng dengan pendingin udara (AC) hingga penjaja dengan gerobak pikulan di pinggir jalan.

Soal cita rasa tentu tergantung selera masing-masing orang. Kalau memang disukai orang, tentu penjual nasi goreng itu akan bertahan lama.

Seperti Rumah Makan Bumen Jaya yang dikenal sebagai salah satu rumah makan yang bertahan melestarikan makanan turun-temurun itu sejak dahulu. Di rumah makan tersebut, nasi goreng disajikan dalam beberapa variasi, antara lain nasi goreng ayam dan nasi goreng kambing. Ada pula mi rebus, sate ayam, sate kambing, sop kambing, gule, tongseng, dan lainnya. Namun yang menjadi ciri khas adalah nasi goreng ayam dan mi rebus.

”Sudah 45 tahun rumah makan ini berdiri, dan dari dulu resep yang dibuat Bapak tidak pernah berubah. Begitu juga dengan cara memasaknya, masih dengan memakai arang,” ujar Robiyanti (63), pemilik Rumah Makan Bumen Jaya. ’Bapak’ yang dia maksud adalah almarhum suaminya Anwar Sanusi.

Ketika Warta Kota mengamati, pengolahan masakan itu memang menggunakan anglo alias tungku tanah liat dengan bahan bakar arang kayu. Dengan demikian cita rasa masakan yang dihasilkan sangat khas.

Nasi goreng ayamnya diberi potongan daging ayam cukup banyak, disertai taburan emping yang melimpah. Hanya saja saat disajikan kebetulan agak dingin, karena ketika kami sampai di sana, terlihat di atas kompor sudah ada satu wajan besar berisi nasi goreng yang sudah siap, tinggal disajikan saja dengan tambahan emping.

Rasa nasi gorengnya lumayan. Kalau suka rasa pedas, pengunjung tinggal pesan khusus kepada sang koki. Nasi goreng itu pun akan diberi irisan cabai rawit. Wah, bisa dibayangkan pedasnya irisan cabai yang tergigit.

Mi rebusnya juga patut dicoba. Kami memilih mi nyemek. Diolah seperti membuat mi rebus tetapi hanya dengan sedikit kuah atau dalam bahasa Betawi disebut nyemek. Warnanya kecokelatan dan manis karena diberi campuran kecap.

”Awalnya bapak memakai mi kuning basah, tetapi semenjak ada isu boraks, kami jadi tidak berani pakai mi itu lagi. Paling sekarang pakai mi telur kering,” jelas Robiyanti.

Uritan

Sedikit membuka rahasia, menurut perempuan yang akrab dipanggil Yanti tersebut, bumbu dasar untuk nasi goreng berupa tomat, bawang putih, kemiri yang dihaluskan lalu ditumis sehingga menjadi bumbu jadi yang tinggal diolah bersama mi atau nasi.

Hanya saja kini ada yang berkurang. Kalau dulu ada campuran uritan (telur yang belum jadi di dalam perut ayam—Red) di dalam bumbunya. ”Sekarang sudah susah cari uritan di pasar, tapi rasanya tidak berubah kok,” tegas Yanti.

Baik nasi goreng maupun mi selalu disajikan dengan taburan emping. Bila Anda ingin lauk tambahan untuk nasi goreng, seperti kepala ayam, brutu (ekor), atau sayap, tinggal memesannya. Setiap lauk harganya Rp 3.000 per porsi. Nasi goreng ayam dan mi nyemek plus telur mata sapi harganya Rp 15.000 per porsi.

Sambil menunggu makanan yang dipesan datang, pengunjung bisa memesan otak-otak atau tahu pong sebagai camilan. Seporsi otak-otak isi 10 bungkus Rp 20.000, sedangkan tahu pong isi 10 biji Rp 10.000. Untuk minuman, yang jadi favorit pengunjung adalah es jeruk kelapa yang harganya Rp 10.000 per gelas.

Soal cita rasa tak perlu diperdebatkan. Setiap orang punya cita rasanya sendiri-sendiri. Yang pasti, Bumen Jaya sudah bertahan 45 tahun. Itu saja sudah menunjukkan bahwa menu dan cita rasanya yang khas punya penggemar tersendiri. Kalau tidak, tentu sudah gulung tikar. (Dian AM)

Kota Toea










Kota Toea

Wisata budaya (cultural tourism) kini semakin mendapat tempat di hati wisatawan. Budaya selalu menjadi obyek wisata utama di seantero dunia. Namun sekitar tiga dasawarsa lalu, tren wisata budaya mulai terpecah, wisatawan mulai tertarik juga pada hasil peninggalan masa lampau yang menempel pada dinding-dinding bangunan di kota bersejarah, kota tua pada setiap negara yang mereka kunjungi. Tren wisata itu diberi nama heritage tourism atau cultural heritage tourism.

Heritage, atau warisan berupa berbagai peninggalan dalam segala bentuk, penting bukan hanya sebagai sebuah identitas kota dan negara tapi juga bernilai ekonomi serta memberi dampak sosial. Budaya merekatkan manusia untuk mencipta saling pengertian yang membawa pada kedamaian dan keharmonisan. Wisata heritage pada akhirnya juga membantu memelihara dan melestarikan heritage/warisan itu sendiri.

Di dalam setiap kota tua masih lekat menempel sejarah sang kota, perjalanan hidup kota berabad lalu masih bisa terbaca hingga detik ini melalui bangunan tua, jalur kereta api, jembatan, kanal, kuliner, folklore, tradisi dan segala yang masih terus dilestarikan.

Kerutan di wajah sebuah kota tua, yang terpelihara apik, menjadi begitu menarik dan merangsang wisatawan untuk datang, tak sekadar menjenguk, mengenang, tapi juga mencoba memahami mengapa sebuah peristiwa terjadi pada satu kurun waktu. Kemudian, bisa kekaguman yang muncul atau dalam kisah tertentu, berharap kejadian buruk di masa lalu tak terulang kembali.

Warisan yang ada di setiap kota di dunia memiliki arti penting yang berbeda bagi penduduk kota itu sendiri, penduduk di negara di mana sebuah kota berada, atau bahkan bagi dunia.

Arti sebuah warisan bisa positif atau negatif. Warisan masa lalu, tak selalu berupa kejayaan yang membanggakan bagi generasi di masa kini namun seringkali juga mendatangkan rasa malu, kebencian, seperti pada masa kelam Jerman dan Eropa pada umumnya ketika Hitler berlagak menjadi Tuhan dan membantai orang Yahudi. Begitu banyak warga Jerman ingin melupakan warisan yang ditinggalkan Hitler. Tapi bagaimanapun, orang tak bisa melupakan sejarah mereka, baik yang membanggakan maupun yang memilukan.

Auschwitz atau Oswiescim yang masuk dalam World Heritage Sites UNESCO adalah salah satu peninggalan yang dilestarikan. Warga dunia ternyata lebih banyak yang memilih untuk tidak melupakan sejarah terkelam manusia di abad 20 melalui kamp pembantaian Yahudi di Polandia ini. Melalui Auschwitz, dunia diingatkan agar lakon ini tak pernah lagi dipentaskan pada panggung dunia manapun.

Berlin masih menyimpan reruntuhan tembok, perlambang runtuhnya komunisme, yang dihancurkan pada 1989. Gerbang Brandenburg menanti wisatawan yang ingin menatap pintu gerbang pertanda damai dari Raja Frederik William II dari Prussia dan dibangun oleh Carl Langhans yang kini jadi landmark Berlin - bahkan Eropa. di Koln berdiri tegak Katedral Koln atau Kõlner Dom sebagai tengara kota yang dibangun di sekitar abad 12.

Kota tertua di Belanda, Maastricht, yang sudah ada sejak zaman Romawi dan sempat hanya menjadi kota kecil di ujung Selatan Belanda, kini bersinar sebagai kota budaya dengan peninggalan dari abad 12 yang masih bisa dilihat, tembok kota, gerbang kota, dan benteng.

Sebagai kota benteng, Maastricht mempertahankan warisan itu hingga kini. Sejak 1992, di mana Maastricht menjadi kota kelahiran Uni Eropa lewat Perjanjian Maastricht (The Treaty of Maastricht), kota ini makin berkilap sebagai kota tujuan turis mancanegara. Pemerintah setempat sadar betul, koceknya makin gemuk dengan kedatangan turis. Goa, St Pietersberg Cave, yang sudah ada sejak sebelum Masehi pun masih terawat lengkap dengan peninggalan sketsa dan lukisan di dinding. Di masa Hitler, goa ini menjadi tempat persembunyian.

Intinya, mereka melek heritage. Warisan berabad silam dilestarikan bukan hanya demi memenuhi rasa penasaran para turis tapi juga demi pengembangan heritage itu sendiri.

Di beberapa negara seperti Inggris, Skotlandia, Australia, dan Amerika Serikat, tur hantu pun digelar. Biasanya mereka menyasar bangunan tua.

Dari Asia, Korea Selatan penuh dengan kuil yang dibangun bahkan sejak sebelum Masehi. Kota bersejarah Gyeongju, Kuil Bulguksa, dan pertapaan Seokguram Grotto semua masuk dalam daftar World Heritage Sites UNESCO. Kawasan Gyeongju sudah ada sejak tahun 57 sebelum Masehi. Gyeongju adalah bekas ibukota Kerajaan Silla yang sudah berkembang sejak awal milenium. Tak pelak, peninggalan arkeologi di kawasan ini mengambil lahan yang cukup luas, sekitar 1.300 km2. Sedangkan Kuil Bulguksa, kuil penganut Buddha, dibangun juga pada masa Kerajaan Silla pada sekitar tahun 580-an. Seokguram Grotto adalah salah satu bagian dari kompleks Kuil Bulguksa yang mulai didirikan pada tahun 742.

Bicara soal Korea Selatan, sekitar dua pekan lalu seorang rekan lama dari Seoul melempar surat elektronik ke Warta Kota. Setelah berbasa-basi menanyakan kabar, lantas mulailah diskusi tentang wisata heritage. Kemudian dia menulis, "Pemerintah Seoul sedang membangun kafe di jembatan Sungai Han. Bayangkan, secangkir kopi sambil memandang Sungai Han dan air mancur menari. Kalau malam, waaaaah... romantis. Dan ini dibikin untuk menarik turis."

Menarik turis berarti menyedot uang dari kocek para turis agar masuk ke Seoul. Sebuah upaya dan kemauan luar biasa dari pemerintah Seoul untuk mewujudkan janji mereka pada dunia, menampilakan Seoul sebagai Soul of Asia.

Bergerak ke negara tetangga Indonesia, Malaysia, ada Malaka yang tahun lalu masuk dalam daftar World Heritage Sites. Intinya, semua berlomba memelihara dan melestarikan warisan terpenting mereka sekaligus mengelolanya dengan baik.

Pada akhirnya memang, nilai ekonomi heritage begitu terasa langsung bagi kota dan penduduknya. Kafe, restoran, hotel, toko suvenir, pedagang tradisional semua terkena dampak berputarnya uang. Selain itu, keberlangsungan sebuah kota -lengkap dengan peninggalan sejarah dan budaya- terjaga bagi generasi selanjutnya.

Lantas, apa kabar Jakarta? Di usia yang menjelang 500 tahun, dalam rentang waktu yang kurang dari 20 tahun ke depan, Jakarta masih saja berantakan. Sudahkah Jakarta menciptakan citranya sebagaimana kota-kota lain di dekatnya?

Kawasan bersejarah Jakarta yang sedang dalam proses dihidupkan kembali kini terkesan dhedhel dhuwel. Mandek bukan hanya karena masalah pembangunan fisik, dan pembenahan ulang -karena dalam waktu dua tahun sudah babak belur lagi sehingga harus tambal sulam- tapi juga karena tak jelas arah revitalisasi itu. Terlalu banyak kepentingan, terlalu banyak cakap, minim tindakan.

Padahal, potensi kawasan bersejarah/kota tua Jakarta tak terkatakan. Tengok saja sejarah kota ini. Bermula dari Sunda Kelapa di seputar abad 12 kemudian berganti nama menjadi Jayakarta pada 1527, berubah lagi menjadi Batavia pada 1619 di masa VOC, dan terakhir Jakarta pada 1942.

Sejarah panjang itu bermula di kawasan yang kini disebut kawasan lama atau kawasan bersejarah atau kota tua. Seluruh kawasan tempat di mana Batavia berawal ini ditetapkan sebagai situs dan dilindungi oleh SK Gubernur DKI Jakarta No 475/1993 mengenai bangunan cagar budaya di DKI Jakarta yang harus dilestarikan.

Menurut Candrian Attahiyat, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kota Tua, sesuai Peraturan Gubernur No 34 Tahun 2006 tentang penguasaan, perencanaan, penataan kota tua, luas kawasan bersejarah atau kota tua Jakarta adalah 846 hektar. Batas sebelah Selatan adalah Gedung Arsip, batas Utara adalah Kampung Luar Batang, batas Timur Kampung Bandan, dan batas Barat di Jembatan Lima.

Di kawasan itu saja ada lebih dari 200 bangunan tua yang dimiliki BUMN, DKI Jakarta, swasta, dan perseorangan. Kondisinya? Lebih banyak yang menunggu ajal.

Selain empat museum milik DKI Jakarta, Museum Sejarah Jakarta yang menempati bekas gedung balai kota di masa Batavia; Museum Wayang; Museum Seni Rupa dan Keramik; dan Museum Bahari, kawasan ini juga memiliki dua museum perbankan, Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia.

Di seputaran bekas pusat Batavia, ada bangunan Stasiun Jakarta Kota atau Beos yang pembangunannya kelar pada 1929. Menyusur kanal membayangkan awal abad 19 di mana kawasan Kali Besar tenar sebagai pusat bisnis, bisa jadi alternatif lain. Bangunan-bangunan tua di sisi kiri dan kanan kanal menjadi saksi sebagain sejarah Jakarta.

Lebih ke Utara, ada sisa tembok Batavia, ada pula kampung yang seharusnya tetap lestari sebagai Kampung Tugu. Kampung ini masuk sebagai kawasan yang dilestarikan dalam SK Gubernur DKI No 475/1993. Disebut demikian karena, menurut Adolf Heuken, penulis sejarah Jakarta, di kawasan ini ditemukan Prasasti Tugu - peninggalan arkeologis tertua yang membuktikan pengaruh Hindu di Jawa Barat.

Di kampung ini pula para mardijkers - tahanan yang sudah dibebaskan, dimerdekakan oleh Belanda - tinggal. Mereka kebanyakan keturunan Portugis.

Gereja Tugu yang pertama kali dibangun pada 1670-an, masih berdiri di sana. Kampung ini juga menyimpan warisan kuliner seperti dendeng tugu dan pindang srani tugu yang semua sudah punah bersama punahnya Kampung Tugu. Kampung yang harusnya lestari seperti apa adanya, kini hanya menyisakan keroncong tugu. Selebihnya, kini kawasan itu jadi tempat antrean truk konteiner.

Untuk menyasar wisata kuliner, kota tua masih memiliki kawasan yang paling beken. Kawasan itu tak lain adalah Pancoran, Glodok. Ingin ke pulau, bergeser sedikit ke Teluk Jakarta ada Kepulauan Seribu dengan Taman Arkeologi Pulau Onrust - pulau yang sibuk/tak pernah istirahat - yang terdiri atas Pulau Onrust, Cipir, Kelor, dan Bidadari.

Tentu saja Indonesia tak hanya punya Jakarta. Kota-kota lain di Pulau Jawa seperti Banten, Cirebon, Bandung, Yogyakarta, Semarang hingga kota-kota di luar Pulau Jawa menyimpan warisan tersendiri.

Yang perlu diingat bahwa bahkan dari segelas bir, secangkit kopi atau teh, sepotong es krim, semangkuk soto, atau patahan tembok tua, kita bisa kembali ke ratusan bahkan ribuan tahun lalu.

Preserving our past, building our future... Mulailah detik ini.
Hajatan
Museum Wayang, Jakarta, Minggu, 7 Juni 2009, pukul 10.00 - 14.00
Wayang Golek Sunda
Museum Wayang, Jakarta Kota, Minggu 24 Mei 2009, pukul 10.00-14.00.
Pergelaran Wayang
Bentara Budaya Jakarta, Kamis, 28 Mei 2009, pukul 19.30
Music Performance: Sol Project









Gereja Tugu Segera Dikonservasi




Gereja Tugu Segera Dikonservasi

Warta Kota/Agus Himawan
Gereja yang sekarang berdiri merupakan bangunan yang ketiga setelah bangunan yang pertama 1678 yang dari kayu hancur pada pemberontak Cina tahun 1740. Tahun 1744, atas bantuan seorang tuan tanah Justinus Vinck, gereja ini dibangun kembali dan baru selesai pada 1747.Senin, 8 Juni 2009 12:16 WIB
SETELAH sekian lama warga Kampung Tugu menanti upaya perbaikan terhadap gereja mereka, akhirnya kabar baik itu datang juga dari Pemprov DKI, dalam hal ini dari Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Utara.

Kabar bahwa pekan depan gereja mereka, gereja bersejarah dari abad 18, akan mulai dikonservasi cukup melegakan hati warga Kampung Tugu. Khususnya warga yang biasa menggunakan Gereja Tugu sebagai tempat ibadah selama puluhan tahun. Kampung yang merupakan kawasan cagar budaya yang gagal, seperti yang terjadi pada Kampung Betawi Condet ini, menyisakan warisan berupa bangunan gereja dan satu bangunan rumah keturunan Portugis sebagai penanda sejarah - selain Keroncong Tugu, tentunya.

Sekitar tahun lalu Warta Kota sudah melihat atap bangunan yang masuk dalam daftar cagar budaya ini penuh dengan bercak-bercak bekas bocor dari air hujan. Di samping itu, atap di sisi kiri gedung sudah pula melengkung. Belum lagi tembok bangunan yang terkena rembesan air tanah. Tahun lalu pula, banjir merendam pekuburan para leluhur keturunan Portugis di Kampung Tugu, Semper, Jakarta Utara, ini. Atap gedung ini tampak sudah keropos. Jangan sampai kejadian seperti gelagar Museum Bahari yang roboh di awal tahun lalu terjadi lagi di sini.

Seorang anggota gereja yang menerima rombongan Ekspedisi Marunda IV menyatakan, mulai pekan depan ibadah jemaat akan dipindah ke Gedung Serba Guna Yeruel, sebuah bangunan di sebelah gereja utama. Pemindahan itu terkait makin parahnya kerusakan atap gedung gereja dan akan dimulainya proses pembenahan gedung cagar budaya itu. Belum ada pihak dari Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Utara yang bisa memberi konfirmasi perihal ini.

Gereja Tugu menyimpan bangku diakon antik dan mimbar tua. Di samping kanan gereja ada lonceng tua. Adolf Heuken, penulis sejarah Jakarta, mencatat lonceng ini berasal dari tahun 1880.

Tentu saja suka cita warga Kampung Tugu dan jemaat Gereja Tugu adalah suka cita warga Jakarta pada umumnya. Jejak sejarah melalui bangunan berupa masjid, kelenteng, dan gereja menjadi daya tarik warga yang mulai menjadikan wisata sejarah dan wisata budaya sebagai alternatif di hari libur.

Seperti juga yang diperlihatkan peserta Ekspedisi Marunda IV yang digelar Komunitas Historia, sepanjang Minggu (7/6). Daya tarik Gereja Tugu - dibangun atas biaya Justinus Vinck antara tahun 1744 dan 1747 - tak lepas dari kekayaan tradisi Kampung itu sendiri. Bicara soal Gereja Tugu, maka mau tidak mau mereka akan bicara tentang sisa-sisa keturunan Portugis yang masih ada lengkap dengan nama Portugis. Ini saja sudah bikin penasaran banyak peserta wisata hingga beberapa ingin kembali ke kampung ini untuk bisa lebih puas menikmati di kompleks Gereja Tugu , rumah Portugis, dan keroncong bersama keturunan Portugis yang masih tersisa.

Semoga rasa penasaran lain, tentang upaya membenahi bangunan gereja ini, juga segera terjawab.


WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Senin, 08 Juni 2009

Reog Ponorogo Meriahkan Harlah Bung Karno


Reog Ponorogo Meriahkan Harlah Bung Karno

KOMPAS/HERU SRIMUMORO
Kirab Reog
/
Sabtu, 6 Juni 2009 17:31 WIB
KARAWANG, KOMPAS.com--Hiburan Seni Reog Ponorogo dari Jawa Timur, Sisingaan dari Kabupaten Subang dan Barongsai meramaikan suasana peringatan Hari Lahir (Harlah) Bung Karno ke-108 di Lapang Tugu Rengasdengklok, Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Sabtu.
Kedua hiburan seni itu sengaja ditampilkan sambil menunggu dimulainya acara peringatan Harlah Bung Karno ke-108, sekira pukul 12.30 WIB, yang akan dihadiri calon presiden Megawati Soekarnoputri dan calon wakil presiden Prabowo Subianto.
Pertunjukan tersebut menjadi perhatian warga setempat, sehingga meskipun acara belum dimulai, warga yang ingin melihat Megawati dari dekat sudah memadati lokasi panggung.
"Hiburan seni Sisingaan itu adalah sumbangan dari Bupati Subang Eep Hidayat dan untuk seni Reog Ponorogo adalah sumbangan dari salah seorang bupati di Jawa Timur," kata Ketua Panitia Harlah Bung Karno ke-108, Deden Darmansyah, kepada ANTARA, di Karawang, Sabtu.
Pasang Bendera PDIP dan Partai Gerindra
Bendera Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) banyak terpasang di beberapa titik menuju lokasi peringatan Harlah Bung Karno ke-108, di Lapang Tugu Proklamasi Rengasdengklok, Karawang.
Selain itu, ada pula baliho Megawati-Prabowo yang terpasang di sisi jalan menuju lokasi acara. Sementara di sekitar panggung acara, tidak ada atribut partai, baik atribut PDIP maupun Gerindra.
Namun, kelompok paduan suara yang berada di paling kiri panggung menggunakan seragam pakaian putih bertuliskan Mega-Prabowo. Begitu juga dengan para pemain Reog Ponorogo, menggunakan seragam pakaian bertuliskan Mega-Prabowo.
"Ini murni acara Harlah Bung Karno, bukan kampanye," kata Ketua DPP PDIP, Adang Ruhiatna, di Karawang, Sabtu.

Susi Air Antar Anda ke "Surganya" Tukang Besi


Susi Air Antar Anda ke "Surganya" Tukang Besi

Kompas/Lasti Kurnia
Ikan Behn's Damsel dengan seekor ikan pembersih di antara terumbu karang di perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara.
/
Artikel Terkait:
Kalimantan Akan Menjadi Tujuan Wisatawan Dunia
Bagian Mana dari Monas yang Paling Diminati Orang?
30 April, Saatnya Berburu Barang Bekas di Koninginnedag
PKL Borobudur Pakai Busana Adat
Minggu, 31 Mei 2009 07:47 WIB
WAKATOBI, KOMPAS.com - Perjalanan menuju Kepulauan Wakatobi tampaknya tidak akan menjadi keluhan lagi bagi sebagian kalangan masyarakat, terutama para wisatawan. Turis yang ingin menikmati obyek wisata alam di kepulauan yang memiliki ekosistem terumbu karang indah di bawah laut, akan lebih mudah karena akses transportasi udara mulai terbuka. Dengan adanya bandar udara (Bandara) Matahora di Kota Wangi-Wangi, yang telah diresmikan oleh Menteri Perhubungan, Jusman Safi’i Jamil (22/5) tampaknya telah menghilangkan animo bahwa transporatasi wilayah kepulauan hanya bisa dilayani dengan angkutan laut. Gugusan kepulauan Wakatobi -- akronim dari nama pulau Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko -- merupakan salah satu wilayah terisolasi di bagian timur Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) karena letak geografisnya berada di perairan Laut Banda. Untuk menjangkau wilayah yang juga dikenal "Pulau Tukang Besi" (daerah penghasil kerajinan besi), cukup jauh dari Kota Kendari, ibukota Provinsi Sultra. Masyarakat yang akan ke kota dan dari Kota Kendari - Wakatobi menggunakan kapal pelayaran rakyat dengan waktu tempuh sekitar 10 jam (musim gelombang laut rendah) sampai 15 jam (musim gelombang laut tinggi). Selain itu juga dapat melalui perjalanan laut dari Kota Kendari - Kota Bau-Bau dengan menggunakan kapal cepat, dan melanjutkan perjalanan darat menuju pelabuhan Lasalimu atau Pasar Wajo (Kabupaten Buton), kemudian menggunakan kapal pelayanan rakyat ke Wakatobi. Bagi masyarakat kepulauan Wakatobi, perjalanan seperti itu merupakan hal biasa, tetapi bagi masyarakat luar Wakatobi, apalagi kalangan wisatawan, mungkin tidak terbiasa karena selain menyita waktu perjalanan yang panjang, juga bisa melelahkan. Melihat kondisi geografis kepulauan Wakatobi yang sejak tahun 2003 menjadi daerah otonomi -- pemekaran dari Kabupaten Buton--, akhirnya Bupati Wakatobi, Hugua dengan dukungan DPRD dan masyarakat setempat membangun Bandara Matahora menggunakan dana APBD Wakatobi tahun 2008. Hugua mengatakan, pembangunan bandara tersebut dilakukan secara bertahap, mulai tahun 2008 landasan pacu sepanjang 1.400 meter, dan tahun 2009 diperpanjang menjadi 1.800 meter dan tahun 2010 akan diperpanjang menjadi 2.100 meter agar dapat melayani pesawat berbadan lebar. Pengoperasian Bandara Matahora oleh Menteri Perhubungan yang lalu juga sekaligus diawali dengan penerbangan perdana pesawat "Susi Air" - pesawat berbadan kecil dengan kapasitas penumpang 12 orang-- , dari Kota Kendari - Wakatobi yang membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Terobosan pembangunan Bandara ini, kata dia, sangat penting untuk mempermudah akses transportasi ke daerah ini, sebab kalau mengandalkan akses transportasi laut, maka wilayah tersebut sulit untuk maju sejajar dengan daerah lain. "Pembangunan Bandara ini diharapkan dapat memacu pertumbuhan ekonomi daerah ini dan sekitarnya, karena akses transportasi semakin terbuka, berarti perputaran roda perekonomian rakyat bisa meningkat," ujarnya dengan penuh harap di masa depan. Menurut Hugua, dengan penggunaan transportasi udara tersebut, bagi wisatawan, baik dalam negeri maupun luar negeri yang melakukan perjalanan pulang pergi ke dan dari Wakatobi - daerah asal wisatawan itu, bisa terpangkas waktu minimal selama empat hari. "Para wisatawan membutuhkan perjalanan yang cepat, rasa nyaman dan aman ke Wakatobi, oleh karena itu, salah satu solusinya dengan membangun Bandara tersebut," ujarnya. Hugua memprediksi bahwa jumlah wisatawan ke Wakatobi di mas mendatang bisa melonjak dari sebelumnya mencapai sekitar 3.000 sampai 4.000 orang, menjadi sekitar 200.000 orang per tahun. "Saya optimistis dengan adanya bandara ini, jumlah wisatawan bisa meningkat. Sebelumnya banyak turis mengurungkan niatnya ke Wakatobi hanya karena masalah transportasi," ujar Hugua yang selalu aktif ke luar negeri untuk mempromosikan potensi sumber daya alam daerahnya. Ia mengatakan, wisatawan mancanegara yang ke Wakatobi datang secara terorganisir dengan menggunakan transportasi udara khusus dari Bandara Ngurah Rai Denpasar Bali melalui Bandara Maranggo di Pulau Tomia, yang dikelola investor PT. Wakatobi Divers Resort asal Jerman. "Wisatawan yang menggunakan jasa PT. Wakatobi Divers Resort itu selalu antri setiap tahun untuk berkunjung ke Wakatobi, oleh karena itu, kami buka akses transportasi udara lain melalui Bandara Matahora, dengan harapan agar masyarakat, khususnya wisatawan yang mau ke sini tidak lagi kesulitan transportasi," ujarnya. Hugua yang juga dikenal sebagai pegiat lembaga swadaya masyarakat "Sintesa" ini mengatakan, Wakatobi dengan luas wilayah 65.705 kilometer persegi itu, memiliki potensi kekayaan sumber daya laut yang luar biasa karena letaknya berada di segi tiga karang dunia yang melinatasi di enam negara, yakni Malaysia, Philipina, Pulau Salomon, Papua Nugini dan Timor Laste. Berdasarkan hasil penelitian dari lembaga studi internasional, kata Hugua, Wakatobi memiliki keanekaragam terumbu karang terbesar di dunia sekitar 750 jenis dibandingkan dengan terumbu karang di Laut Merah memiliki sekitar 450 jenis dan Laut Karibia sekitar 50 jenis. Oleh karena itu, kata Hugua, Pemerintah Kabupaten Wakatobi memberikan julukan obyek wisata alam bahari itu dengan "Bumi Surga Bawah Laut", yang diimplementasikan dalam konsep visi pemerintah daerah tersebut, yakni "Terwujudnya Surga Nyata Bawah Laut di Jantung Segitiga Karang Dunia". "Konsep visi dan misi Pemerintah Wakatobi seperti ini bisa dikatakan sesuatu yang ambisius dan mimpi, tapi inilah karakter wilayah ini karena berbeda dengan daerah lain di Indonesia karena potensi andalan adalah kekayaan sumber daya laut, baik hasil perikanan maupun pariwisata, khususnya obyek wisata terumbu karang," ujarnya. Selain pariwisata, potensi sumber daya perikanan di Wakatobi, juga cukup kaya dengan ikan cakalang, tuna, kerapu, kakap, lobster, teripang, dan rumput laut, serta penangkaran satwa langka penyu. Pemkab Wakatobi, kata Hugua, telah menfokuskan perhatian pada sektor pariwisata dan perikanan, meskipun dalam kerangka kebijakan pemerintah setempat bahwa prioritas utama pembangunan pada sektor pendidikan, kesehatan dan pembangunan sarana infrastruktur serta peningkatan pelayanan birokrasi pemerintah. "Dengan bertumpu pada prioritas utama pembangunan tersebut, sehingga alokasi anggaran sektor pariwisata dan sumber daya perikanan cukup kecil karena fokus perhatian kedua sektor ini bukan pembangunan fisik, tetapi lebih bersifat promotif terhadap potensi sektor pariwisata dan hasil-hasil perikanan," ujarnya. Pada saat peresmian Bandara Matahora dan penerbangan perdana pesawat Susi Air (22/5), Menteri Perhubungan, Jusman Safi’i Jamal memuji inisiatif Pemerintah Kabupaten Wakatobi dan maskapai Susi Air yang telah melakukan terobosan membuka keterisolasian wilayah ini dengan membangun bandara dan pelayanan pesawat penerbangan. "Kami sangat menghargai dan mendukung inisiatif Bupati Wakatobi membangun bandara ini dan pihak maskapai Susi Air yang melayani penerbangan di daerah ini. Mudah-mudahan manfaatnya bisa memacu pusat-pusat pertumbuhan daerah ini dan sekitar," ujarnya. Sebab, kata Menhub, pembangunan bandara tersebut sangat strategis untuk mendukung Kabupaten Wakatobi sebagai daerah wisata "surga di bawah laut" dan pemanfaatan potensi kekayaan sumber daya perikanan. Hal senada dikatakan Gubernur Sultra Nur Alam, kehadiran Bandara Wakatobi sangat stretegis untuk mendukung pengelolaan potensi kekayaan alamnya terutama obyek wisata yang keindahan panorama bawah laut dan sumber daya perikanan. "Wakatobi sudah terkenal di dunia dengan aneka ragam dan keindahan terumbu karangnya, oleh karena itu, kehadiran bandara akan membuka mata dunia untuk menarik banyak pengunjung untuk menyaksikan surga di bawah laut," ujarnya. Karena itu, kata Nur Alam, Pemerintah Provinsi Sultra akan mengoordinasikan dengan seluruh pemerintah kabupaten dan kota di Sultra agar membangun infrastruktur Bandara di daerahnya masing-masing agar bisa ’link’ dilayani oleh pesawat Susi Air. "Kami akan menyusun ’master plan’ penerbangan yang dapat melayani seluruh wilayah di Sultra dan juga daerah sekitarnya seperti Kepulauan Flores (NTT) dan Buru (Maluku)" ujarnya. Direktur Maskapai Susi Air, Susi Pujiastuti mengatakan, pihaknya menyediakan layanan transportasi udara tersebut pulang pergi dari dan ke Kendari - Wangi-Wangi sebanyak 10 kali dalam semiggu. Susi menambahkan, pihaknya juga telah berkomitmen untuk melayani penerbangan di daerah pesisir yang memiliki visi penyelamatan lingkungan, oleh karena itu, selain penumpang, juga pesawat tersebut akan melayani kargo hasil perikanan yang ramah lingkungan. "Saya sampaikan bahwa kami tidak akan melayani kargo hasil perikanan yang diperoleh dengan menangkap ikan dengan bom, potasium, dan merusak hutan bakau serta tidak melayani kargo ikan hias.

Benteng Kota Lama Dapat Jadi Daya Tarik Wisata


TEMATIS
Benteng Kota Lama Dapat Jadi Daya Tarik Wisata

KOMPAS/AHMAD ZULKANI
Salah satu obyek wisata sejarah di Bengkulu adalah benteng Fort Marlborough, yang dibangun Inggris tahun 1713-1719.
/
Sabtu, 30 Mei 2009 05:18 WIB
KOMPAS.com - Penggalian tim penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta pada 18-27 Mei lalu, yang membuahkan penemuan bekas struktur bangunan Benteng Kota Lama menuai secercah harapan. Nilai kesejarahan mengenai benteng tersebut diharapkan dapat menjadi daya tarik wisata di Kawasan Kota Lama.
Dalam ekskavasi yang dilakukan di dua titik, tim penelitian menemukan bekas pondasi, sekitar 500 artefak perkakas rumah tangga, dan bekas tatanan batu bata. Hasil temuan itu mengindikasikan bahwa benteng dengan lima sisi tersebut pernah berdiri mengelilingi kawasan Kota Lama pada rentang waktu 1756-1824.
Meskipun masih terdapat pro-kontra terhadap dugaan waktu berdirinya, banyak pihak menyambut positif terhadap asumsi keberadaan benteng itu sendiri.
Ketua Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BP2KL) Surahman, Jumat (29/5), menyatakan, keberadaan Benteng Kota Lama dapat dijadikan sebagai salah satu daya tarik wisata Kota Semarang. Nilai kesejarahan dapat digunakan sebagai alat promosi untuk pengembangan kawasan Kota Lama secara komprehensif.
"Keberadaan benteng tersebut menjadi nilai tambah yang dapat ditawarkan kepada pihak swasta untuk berinvestasi di Kota Lama. Selain itu, juga menjadi daya tarik wisata bagi turis yang berkunjung," katanya.
Perancang dan perencana bangunan Widya Wijayanti menuturkan, Kepala Bidang Perencanaan Pembangunan III Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Semarang M Farchan mengatakan, penemuan arkeologis Benteng Kota Lama dapat memperkaya data kesejarahan. Hasilnya dapat untuk mengetahui morfologi perkembangan kota dari masa ke masa.
Ketua tim peneliti Balai Arkeologi Yogyakarta Sugeng Riyanto mengakui, masih terdapat kemungkinan lain dari hasil penggalian yang dilakukan timnya. Namun, asumsi terkuat berdasarkan hasil temuan itu merujuk pada keberadaan Benteng Kota Lama.
Penggalian tersebut didasarkan pada garis imajiner (deliniasi) Benteng Kota Lama yang terdapat pada peta tahun 1800. Temuan itu mempertegas keberadaan benteng yang sudah pernah diterbitkan di peta, katanya.
Sugeng menambahkan, hasil penemuan tersebut diharapkan dapat bermanfaat untuk kepentingan riset lebih lanjut, pendidikan formal dan non formal, serta untuk pengembangan kepariwisataan. Pemkot Semarang dapat menayangkan papan informasi mengenai Benteng Kota Lama yang dapat menarik pengunjung, ucapnya.
Ahli sejarah dari Universitas Diponegoro Dewi Yuliati mengungkapkan, penemuan pondasi dan artefak tersebut belum sepenuhnya membuktikan sebagai peninggalan Benteng Kota Lama.
Berdasarkan literatur dengan judul Oud en Nieuw Oost Indie yang berisi tentang perjalanan pengelana Belanda Francois Valentijn, keberadaan Benteng Kota Lama telah ada sejak 1724. "Yang lebih meragukan, benteng tersebut diduga dirubuhkan untuk pembangunan rel kereta api, padahal rentang waktunya terlalu jauh," ucap Dewi. (ILO/UTI)

Naik "Yacht" di Pulau Pannambungang Yuk...


Naik "Yacht" di Pulau Pannambungang Yuk...

Kompas/Lasti Kurnia
Ilustrasi pemandangan bawah laut
/

Senin, 25 Mei 2009 09:51 WIB
KOMPAS.com — Biasanya, hamparan pasir putih di bibir pantai tidak bisa dinikmati bersamaan dengan rindangnya pinus. Menikmati indahnya dunia bawah laut dengan snorkling juga tidak bisa dilakukan bersamaan dengan aksi menantang flying fox dari pucuk pepohonan.
Namun, itu tak berlaku bagi wisata Pulau Pannambungang di Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan. Di lokasi wisata pantai yang waktu tempuhnya 45 menit menggunakan yacht alias kapal ekesekutif dari Kota Makassar ini semua kegiatan itu bisa dilakukan bersamaan.
Pengelola dari PT Makassar Hotel Network (MHN) Hotel Imperial Aryaduta menghadirkan aneka sajian wisata. Hamparan pasir putih tidak hanya kosong. Di dalam birunya air terdapat terumbu karang yang cantik, rumput laut, serta ragam jenis hewan laut, seperti ikan, bintang laut, udang, dan bulu babi. Indah dinikmati untuk snorkling.
Sementara itu, untuk pepohonan rimbun, pengelola menghadirkan flying fox yang start dari ketinggian 20 meter. Untuk naik ke atas tidak mudah karena harus meniti tangga besi yang tersedia. Cocok untuk pengunjung yang menguji adrenalin.
Pulau yang menjadi salah satu tujuan wisata laut menarik ini hanya melayani pada hari libur weekend, yakni setiap Sabtu dan Minggu. "Di pulau ini tamu bisa menikmati beragam kegiatan yang bisa dilakukan bersama, seperti family gathering, kegiatan company, dan outbond. Harga dikenakan per orang," kata Public Relations Manager Hotel Imperial Aryaduta Nisfatul Khairah.
Harga untuk 20 orang masing-masing membayar Rp 300.000 per orang, sedangkan harga untuk 10 orang masing-masing membayar Rp 400.000 per orang.
Paket harga itu, kata Nisfa, sudah termasuk transportasi pulang-pergi dengan menggunakan executive yacht dengan nama Kapal Trinisah dan Kapal Viking, juga termasuk makan siang dan biaya masuk pulau.
Nisfa menambahkan, dalam Pulau Pannambungan disediakan sejumlah fasilitas bagi pengunjung. Fasilitas tersebut di luar dari harga paket yang ditawarkan, seperti jet ski yang harga sewanya sebesar Rp 125.000 per 15 menit, setengah jamnya hanya Rp 250.000, dan juga ada fasilitas bungalow dengan harga Rp 500.000 semalam. (meliana bory/ina maharani)

Danau Kamaka, Keunikan di Belantara Papua







Danau Kamaka, Keunikan di Belantara Papua

Kompas.com/Dok. Budpar/Kristianto Purnomo
Saat mengalami surut, penduduk sekitar biasa memanfaatkan lahan Danau Kamaka untuk bercocok tanam.
/
Artikel Terkait:
Meniti Jejak Islam di Kokas
Menikmati Sensasi di Kegelapan Goa Kokas
Menyibak Misteri Lukisan Darah di Kokas
Mengintip Cenderawasih Menari di Sawinggrai
Mengintip Cenderawasih Menari di Sawinggrai
Sabtu, 16 Mei 2009 09:29 WIB
Laporan wartawan KOMPAS.com Kristianto Purnomo
KOMPAS.com - Wilayah Kaimana Papua Barat tak diragukan menyimpan segala keunikan dan keindahan alam yang luar biasa. Bagaimana tidak? Di sini, pesona alam yang masih perawan siap untuk memuaskan petualangan Anda.
Nah, melancong ke Kaimana, tak lengkap rasanya jika melewatkan kesempatan mengunjungi Danau Kamaka di Kampung Kamaka.
Dalam bahasa setempat, danau sepanjang kurang lebih 30 km ini biasa dijuluki sebagai Danau Amafata. Tak seperti danau pada umumnya, Danau Kamaka memiliki keunikan tersendiri. Air di danau ini selalu mengalami fenomena pasang surut sepanjang kurun waktu 5 hingga 8 tahun.
Tak tanggung-tanggung, perbedaan ketinggian air saat pasang surut terbilang cukup drastis, tak kurang dari 6 meter. Masyarakat di sana biasa menyebut air surut dengan istilah ”meti”.
Bagi masyarakat Kamaka fenomena pasang surut air danau membawa berkah tersendiri. Saat air sedang surut, mereka biasa memanfaatkan lahan danau yang kering untuk ladang bercocok tanam. Umbi-umbian merupakan tanaman yang paling popoler ditemukan di ladang-ladang masyarakat di tempat ini.
Danau yang terletak 7 km dari Kampung Kamaka tersebut merupakan lokasi menarik untuk aktivitas treking. Sepanjang 2 jam perjalanan, anda akan jalan kaki mendaki punggung bukit dan membelah lebatnya belantara Papua.
Beberapa jenis burung endemik di Papua menjadi pemandangan menarik yang biasa anda temui saat menyusuri hutan di sini. Meski harus menerobos hutan Papua, namun jangan khawatir, masyarakat Kamaka akan dengan senang hati menjadi kawan perjalanan anda.
Tiba di lokasi danau, nuansa alami akan menjadi milik anda. Panorama bukit, rindangnya pepohonan, jernihnya air danau, serta ikan yang tersebar di danau menyatu dalam keindahan dan aura ketenangan. Membuat siapapun yang datang betah berlama-lama di danau.
Setelah mandi peluh untuk mencapai Danau Kamaka, saatnya anda mencoba segarnya air di danau ini. Membasuh diri di Danau Kamaka cukup ampuh untuk menghilangkan lelah, menyegarkan tubuh, dan memberi tenaga untuk melanjutkan perjalanan pulang. Selain ikan, di danau ini anda juga masih bisa menjumpai udang air tawar ukuran besar. Pemandangan unik yang jarang dijumpai di danau lainnya.
Nah, tertarik untuk menyambangi Danau Kamaka? Anda harus menggunakan speedboat sewaan dari Kaimana menuju Kampung Kamaka. Dibutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk mencapai kampung ini. Setelah mengantongi ijin dari kepala desa setempat, anda bisa melanjutkan perjalanan ke Danau Kamaka.