Tampilkan postingan dengan label Wisata Kota Toea. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Kota Toea. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 September 2009

Naik Kereta Uap Keliling Kota



Naik Kereta Uap Keliling Kota

Warta Kota/Pradaningrum');" width="70" border="0" height="52" hspace="2">Warta Kota/Pradaningrum');" width="70" border="0" height="52" hspace="2">
Kereta wisata Solo ini akan melaju dari Stasiun Purwosari, melewati Stasiun Solo Kota di Sangkrah dan kawasan Galabo, kawasan wisata kuliner khas Solo yang buka petang hingga dini hari.
Jumat, 25 September 2009 | 10:14 WIB

SORE menjelang petang, Jumat pekan lalu, sekali lagi warga di kota Solo dibikin terpana. Khususnya warga yang sedang melintas di sepanjang Jalan Slamet Riyadi. Itu terjadi ketika loko uap yang menarik kereta wisata kembali mencoba jalur dari Stasiun Purwosari - Stasiun Solo Kota di Sangkrah melintas di tengah kota. Suara peluit dari loko uap itu juga seperti mengundang warga untuk menyambut kereta wisata.

Sontak jalanan pun jadi macet. Kendaraan roda empat, motor, juga pejalan kaki, segera saja berjalan perlahan sekadar mengagumi bahkan ada yang segera merogoh kantong mereka mencari ponsel untuk kemudian mengabadikan atau membuat fim pendek.

Perjalanan kereta uap untuk wisata yang memang sudah sejak sekitar dua tahun lalu direncanakan oleh Wali Kota Solo Joko Widodo, akhirnya terwujud. Acara soft launch pekan lalu itu menandai beroperasinya dua gerbong kereta wisata menggunakan lokomotif uap C1218. Lokomotif yang dipinjam dari Museum Ambarawa ini bikinan Maschinenbau Chemnitz (Richard Hartmann) Jerman tahun 1896.

Pada plat yang menempel di lokomotif tertulis Hohenzollern A.G fur Lokomotiv BAU Dusseldorf tahun 1927, ini tampaknya tak sesuai dengan klasifikasi dan tahun pembuatan lokomotif yang sebenarnya. Beberapa peminat kereta api tua yang bergabung dalam komunitas Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) menyebutkan, berdasarkan buku JJG Oegema, De Stroomtractie op Java en Sumatra, tipe dan tahun pembuatan lok C12 berasal dari seri SS418 bikinan tahun 1896.

Sementara itu dua gerbong wisata yaitu tipe CR 16 dan CC 44 mampu menampung sekitar 80 orang. Gerbong buatan tahun 1906 itu terdiri atas CR 16 dengan kursi memanjang di kedua sisi dan di tengah serta CR 44 dengan kursi yang berhadapan. Kayu jati menjadi bahan paling dominan yang digunakan dalam gerbong ini.

Soft launch kereta wisata, yang belum diberi nama ini, digelar di kawasan Gladag Solo di mana kawasan tersebut jadi kawasan wisata kuliner petang hingga dini hari. Kawasan wisata kuliner itu dikenal dengan nama Galabo (Gladag Langen Bogan) Solo. Berbagai makanan khas Solo berjajar rapi dan bersih di sepanjang jalan raya ini. Setiap hari, mulai sekitar pukul 17.00 kawasan ini tertutup untuk kendaraan dan hanya diperuntukkan bagi pedagang makanan dan mereka yang ingin menyantap makanan khas Solo.

Semula, penandatangan MoU antara PT KA dan Wali Kota Solo akan dilakukan pada Jumat (18/9) ketika kereta kembali diuji coba namun rencana itu batal karena mendekati Idul Fitri. Menurut Joko Widodo, kereta wisata ini akan berangkat dua kali sehari dan penumpang bisa singgah di Museum Radya Pustaka, Museum Batik Wuryoningratan, termasuk di Galabo. Perjalanan Purwosari-Sangkrah sejauh 12 km pergi pulang akan menghabiskan dana Rp 3,2 juta. Maka jangan heran nanti jika tarif sewa kereta ini juga akan mahal.

Meski demikian, seperti nama kereta wisata, soal tarif juga belum bisa ditentukan. Nama seperti Jaladara dan Kreta Kluthuk diusulkan oleh pihak Solo dan Departemen Perhubungan namun belum dipastikan mana nama yang akan dipilih.

Dalam kesempatan berbeda, dosen Program Pascasarjana Lingkungan dan Perkotaan Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang, Tjahjono Rahardjo, mengutarakan pandangannya terhadap frekuensi pengoperasian kereta wisata tersebut, “Kalau setiap hari apa tidak riskan untuk loko-nya dan juga udara di sekitar kawasan yang dilewati kereta.” Kereta berlokomotif uap tentu akan menambah polusi di kota itu, asap hitam yang keluar dari corong lokomotif lama-kelamaan akan menghitamkan kota. Selain itu juga kondisi loko yang usianya sudah sepuh dikhawatirkan tidak akan kuat jika digunakan setiap hari, sehari dua kali. “Akhir pekan saja, Sabtu dan Minggu, misalnya, mungkin lebih baik,” tandasnya.


WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Jumat, 12 Juni 2009

Kisah Tragis Perempuan Budak

Kisah Tragis Perempuan Budak

Repro
Ini merupakan lukisan Johannes Rach yang memperlihatkan para nyonya di Batavia dan budak-budak mereka yang bertugas membawa payungKamis, 11 Juni 2009 11:46 WIB
SJAHADAN di antara boedak-boedaknja toean Van der Ploegh, ada djoega satoe orang prampoean moeda, Rossinna namanja, jang teramat tjantik dan manis parasnja, dan dalem antero Betawi, tiada ada lagi seorang prampoean jang boleh disamaken padanja. Meskipoen Rossinna asal toeroenannja orang Bali, koelinja tiada item malahan poetih koening sebagai koelit langsep. Oemoernja moeda sekali belon anem belas taoen...Ramboetnja jang item moeloes dan pandjang sampe di mata kaki, selamanja dikondei sadja dibetoelan leher...

Demikianlah cuplikan kisah yang dituturkan HFR Kommer dalam buku Rossinna, Swatu Tjerita jang Amat Bagoes dan Betoel Soedah Kedjadian di Betawi yang terbit pada 1910.

Kisah Rossinna yang diambil dari buku Toko Merah: Saksi Kejayaan Batavia Lama di Tepian Muara Ciliwung atau dalam buku Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta disebut Roseta adalah kisah pilu budak belian. Hidup Rossinna atau Roseta berakhir di tiang gantung di depan stadhuis (balai kota) Batavia - kini Museum Sejarah Jakarta (MSJ). Sebuah kisah yang mengingatkan kita pada kasus-kasus TKI yang dianiaya di Malaysia.

Dalam cerita yang utuh yang disertakan dalam buku Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta, Nyonya Ploegh selalu cemburu pada Roseta hingga pada suatu hari Roseta dituduh lengah menjaga sinyo Ploegh, Nyonya Ploegh pun terbakar pikirannya sehingga tanpa hati ia mencelupkan jemari Roseta ke dalam minyak lantas membakar jemari lentik itu. Dendam membara di hati orang-orang yang peduli pada Roseta akhirnya mengakhiri hidup Nyonya Ploegh yang suka menyiksa, sekaligus anak- anaknya, di ujung kelewang.

Sayangnya, Roseta yang kemudian lari dengan pria bernama Jaya di kemudian hari baru menyadari bahwa dirinya ditipu karena ternyata suaminya tak lain adalah kepala perampok yang suka membunuh. Roseta tak mampu melawan dan melarikan diri karena ia selalu dijaga. Mereka bersembunyi di rumah gedek di Ancol namun akhirnya lokasi itu tercium juga oleh pihak berwajib.

Jaya dihukum mati, demikian pula Roseta. Waktu ditagkap Roseta sedang hamil dan perempuan bekas budak belian ini menerima hukuman tiga bulan setelah melahirkan. Di hadapan khalayak ramai, Roseta dihukum gantung.

Thomas B Ataladjar menyebutkan, sejak akhir abad 17 budak sudah dijadikan barang inventaris pemiliknya. Tugas mereka bermacam-macam, ada yang memasak, mencuci pakaian, menjahit, menenun, membawa payung, tempat sirih dan tempolong ludah, atau main musik. Oleh tuannya, para budak dapat dijual kepada orang lain dan bila tak lagi diperlukan mereka dijual ke pelelangan umum.

Kisah lelang budak terjadi di gedung Toko Merah saat bangunan ini dimiliki janda Gubernur Jenderal Reiner de Klerk, Sophia Francina Westpalm. Kala perempuan ini meninggal maka seluruh warisan termasuk 181 budak dilelang. Itu terjadi pada 28 Januari 1786. Kisah pelelangan tertulis demikian, ''...Di depan rumah yang besar di tepi Kali Besar. Sakit rasanya menyaksikan para budak dilelang...Mereka berdiri di atas tangga, ngantri menunggu panggilan dan nasib. Petugas lelang memanggil satu per satu lengkap dengan nama dan tugas masing-masing. Josephine, pemain klarinet; Ariantje van Batavia, pembuat renda...Begitulah nasib para budak, inventaris janda kaya Sophia Francina Westpalm dilelang...Mereka pergi meninggalkan bangunan tempatnya mengabdi, pergi terpencar mengikuti majikan baru. Mereka tetap budak belian."

Sebuah kisah pilu budak yang hingga kini pun masih terjadi.


WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Selasa, 09 Juni 2009

Burung MONAS




KOMPAS/LASTI KURNIA
Rombongan burung dara menikmati cuaca Jakarta yang cerah berawan di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat.
/
Artikel Terkait:
Ribuan Warga Jakarta Kampanye Anti Udara Kotor
Minggu Besok SBY Bersepeda, Mau Gabung?
Monas dan Thamrin Jadi Pusat Kegiatan
Rusa di Monas Kekurangan Rumput
Delman Monas Sejarahmu Kini
Minggu, 7 Juni 2009 04:37 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Hiburan gratis air mancur laser dengan gaya menari dan menyanyi hingga kini tetap diminati banyak pengunjung Monumen Nasional (Monas) Jakarta Pusat. Seorang pengunjung Monas dan juga warga Kota Jakarta, Andi, Sabtu (6/6), mengakui pesona air mancur laser menari atau dikenal dengan air mancur pesona Monas yang dipertunjukkan setiap Sabtu dan Minggu malam menarik perhatian banyak pengunjung. "Ini yang membuat saya dan teman-teman setiap sabtu malam betah berlama-lama tinggal di sini," katanya saat ditemui di Monas. Menurut Andi, taman di Monas selama ini dimanfaatkan oleh keluarga untuk piknik atau sekedar makan malam bersama. Begitu juga bagi mereka yang sudah memiliki pasangan, duduk berdua di atas rerumputan, menikmati keindahan air mancur pesona Monas di malam hari. Atraksi lampu laser, kata dia, menarik minat warga Jakarta dan juga warga di luar Jakarta. Tidak heran bila malam Minggu tiba, banyak pengunjung yang sengaja menyempatkan waktu berkunjung ke Monas. Sementara itu, pengunjung lainnya Iwan mengatakan adanya air mancur laser di Monas itu merupakan kemajuan, seperti halnya yang sudah dilakukan di negara-negara Eropa. "Biar terus diminati pengunjung, sarana dan prasarana perlu dilakukan inovasi terus menerus," katanya.Selain itu, kata Iwan, kebersihan di lingkungan Monas harus diperhatikan terus agar para pengunjung tetap kerasan dan betah untuk berlama-lama tinggal di Monas. Kepala Sub Bagian Tata Usaha Unit Pengelola Monas, Ageng Darmintono, mengatakan kondisi air mancur laser hingga saat ini masih bagus karena perawatan dilakukan terus menerus. "Air mancur ini merupakan salah satu inovasi untuk meningkatkan jumlah pengunjung di Monas," ujarnya. Air Mancur Pesona Monas ini dibangun di lokasi air mancur lama yang dibangun Gubernur DKI Ali Sadikin pada tahun 1974 dengan biaya renovasinya mencapai Rp26 miliar. Renovasi air mancur ini bertujuan untuk memaksimalkan fungsi ruang terbuka hijau di taman Monas yang merupakan taman kota terbesar di Asia Tenggara. Air Mancur Pesona Monas memiliki 33 buah pompa air, 300 nozle, 717 lampu air, juga ada sinar laser model Coherent Sabre Technology German dengan 13 W White Light Laser. Konfigurasi pancaran air dari 33 pompa air, sorotan lampu air, dan sinar laser itu lah yang bisa membuat air mancur seperti terlihat sedang menari.

Jejak Penguasa di Merdeka Utara


Jejak Penguasa di Merdeka Utara

Warta Kota/Irwan Kintoko
Jejak kaki di trotoar Jalan Medan Merdeka Utara.
/

Selasa, 9 Juni 2009 12:34 WIB
SEJUMLAH pejalan kaki tidak begitu peduli ketika melintas di sepenggal trotoar di Jalan Merdeka Utara, Gambir, Jakarta Pusat, Minggu (3/5) pagi. Padahal jika dicermati, di penggalan trotoar tersebut terdapat "monumen kecil" yang dibuat mantan pemimpin di republik ini.Para pejalan kaki yang saat itu melintas banyak yang tidak mengetahui bahwa trotoar yang dilaluinya tersebut punya cerita. Secara nyata memang tidak banyak yang bisa diceritakan di "monumen kecil" itu karena hanya cetakan kaki. Tapi, cetakan-cetakan kaki itu bukan kaki milik orang sembarangan, melainkan milik enam orang yang pernah memimpin bangsa ini.Dari sisi yang paling timur di totoar Jalan Merdeka Utara itu tampak cetakan sepatu -bukan kaki- milik Presiden Soekarno. Dalam cetakan semen itu tertulis dengan huruf besar nama Dr Ir Soekarno sebagai Presiden RI pertama periode 1945-1967 sekaligus Proklamator Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Tidak jauh dari cetakan sepatu Soekarno, ada cetakan kaki Soeharto.Di bawah cetakan kaki Jenderal Besar Soeharto itu tertulis periode jabatannya sebagai Presiden RI kedua, 1967-1998. Sayang, semen pelapis di sekeliling pinggiran cetakan kaki Soeharto itu mulai banyak yang terkelupas, seperti kurang diperhatikan. Cetakan kaki Presiden RI ketiga 1998-1999, Baharuddin Jusuf Habibie, terletak di samping cetakan kaki Soeharto.Cetakan kaki KH Abdurrahman Wahid, Presiden RI keempat (2000-2001), juga ada. Pelindung cetakan kaki Gus Dur -panggilan Abdurrahman Wahid- dari semen juga mulai terkelupas. Cetakan kaki Presiden RI kelima Megawati Soekarnoputri juga tercetak tebal.Megawati yang sekarang kembali mencalonkan diri sebagai presiden ini memimpin Indonesia tahun 2001-2004. Yang terakhir adalah cetakan kaki milik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Di bawah namanya, tercantum pula masa kepemimpinnya, 2004-2009. SBY juga kembali dicalonkan menjadi presiden ketujuh.Cetakan kaki yang sama namun berbeda orang juga bisa dilihat di trotoar di Jalan Medan Merdeka Selatan. Di penggalan trotoar yang berada persis di belakang halte bus Transjakarta, Monas, itu terdapat cetakan sepatu Letjen (Purn) Tjokro Pranolo, Gubernur DKI Jakarta periode 1977-1982, cetakan kaki Letjen (Purn) HR Soeprapto (1982-1987) dan Letjen (Purn) Wiyogo Atmodarminto (1987- 1992), serta Jenderal (Purn) Surjadi Soedirdja (1992-1997).Cetakan kaki terakhir yang ada di atas trotoar itu adalah milik Sutiyoso yang pernah menjadi orang nomor satu di DKI Jakarta ini dua periode, tahun 1997- 2007.Menurut Kepala Seksi Ornamen Kota Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta Djauhar Arifin, cetakan-cetakan kaki para mantan Presiden dan Presiden RI itu asli, termasuk cetakan sepatu milik Presiden Soekarno. "Para presiden itu menginjakkan kakinya di semen yang kemudian dikeringkan dan diabadikan dalam cetakan kaki itu," katanya.Di dekat cetakan-cetakan kaki tersebut terpasang beberapa selang air mancur. Namun, air mancur yang ditutup tembok keramik hitam setinggi sekitar setengah meteran itu jarang sekali dinyalakan.Di keramik yang mulai terlihat kotor itu mantan Gubernur DKI Sutiyoso menulis, "Kita tidak bermaksud mengagungkan masa lampau. Namun, kita tidak boleh membuang begitu saja tanpa makna. Karena, napak tilas masa silam dapat digunakan sebagai pelajaran untuk menapakkan langkah lebih mantap di masa depan."Wajar jika banyak orang yang tidak tahu bahwa ada "monumen kecil" di bawah air mancur tersebut. Apalagi dibandingkan dengan trotoar di Jalan Merdeka sisi yang lain, trotoar di Jalan Medan Merdeka Utara paling sepi dilewati orang.Soal peletakan cetakan-cetakan kaki di trotoar Jalan Merdeka Utara, kata Djauhar, karena lokasi tersebut berseberangan dengan Istana Negara yang sejak dulu menjadi tempat para Presiden itu menjalankan tugas kenegaraan. (Irwan Kintoko)

Gereja Tugu Segera Dikonservasi




Gereja Tugu Segera Dikonservasi

Warta Kota/Agus Himawan
Gereja yang sekarang berdiri merupakan bangunan yang ketiga setelah bangunan yang pertama 1678 yang dari kayu hancur pada pemberontak Cina tahun 1740. Tahun 1744, atas bantuan seorang tuan tanah Justinus Vinck, gereja ini dibangun kembali dan baru selesai pada 1747.Senin, 8 Juni 2009 12:16 WIB
SETELAH sekian lama warga Kampung Tugu menanti upaya perbaikan terhadap gereja mereka, akhirnya kabar baik itu datang juga dari Pemprov DKI, dalam hal ini dari Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Utara.

Kabar bahwa pekan depan gereja mereka, gereja bersejarah dari abad 18, akan mulai dikonservasi cukup melegakan hati warga Kampung Tugu. Khususnya warga yang biasa menggunakan Gereja Tugu sebagai tempat ibadah selama puluhan tahun. Kampung yang merupakan kawasan cagar budaya yang gagal, seperti yang terjadi pada Kampung Betawi Condet ini, menyisakan warisan berupa bangunan gereja dan satu bangunan rumah keturunan Portugis sebagai penanda sejarah - selain Keroncong Tugu, tentunya.

Sekitar tahun lalu Warta Kota sudah melihat atap bangunan yang masuk dalam daftar cagar budaya ini penuh dengan bercak-bercak bekas bocor dari air hujan. Di samping itu, atap di sisi kiri gedung sudah pula melengkung. Belum lagi tembok bangunan yang terkena rembesan air tanah. Tahun lalu pula, banjir merendam pekuburan para leluhur keturunan Portugis di Kampung Tugu, Semper, Jakarta Utara, ini. Atap gedung ini tampak sudah keropos. Jangan sampai kejadian seperti gelagar Museum Bahari yang roboh di awal tahun lalu terjadi lagi di sini.

Seorang anggota gereja yang menerima rombongan Ekspedisi Marunda IV menyatakan, mulai pekan depan ibadah jemaat akan dipindah ke Gedung Serba Guna Yeruel, sebuah bangunan di sebelah gereja utama. Pemindahan itu terkait makin parahnya kerusakan atap gedung gereja dan akan dimulainya proses pembenahan gedung cagar budaya itu. Belum ada pihak dari Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Utara yang bisa memberi konfirmasi perihal ini.

Gereja Tugu menyimpan bangku diakon antik dan mimbar tua. Di samping kanan gereja ada lonceng tua. Adolf Heuken, penulis sejarah Jakarta, mencatat lonceng ini berasal dari tahun 1880.

Tentu saja suka cita warga Kampung Tugu dan jemaat Gereja Tugu adalah suka cita warga Jakarta pada umumnya. Jejak sejarah melalui bangunan berupa masjid, kelenteng, dan gereja menjadi daya tarik warga yang mulai menjadikan wisata sejarah dan wisata budaya sebagai alternatif di hari libur.

Seperti juga yang diperlihatkan peserta Ekspedisi Marunda IV yang digelar Komunitas Historia, sepanjang Minggu (7/6). Daya tarik Gereja Tugu - dibangun atas biaya Justinus Vinck antara tahun 1744 dan 1747 - tak lepas dari kekayaan tradisi Kampung itu sendiri. Bicara soal Gereja Tugu, maka mau tidak mau mereka akan bicara tentang sisa-sisa keturunan Portugis yang masih ada lengkap dengan nama Portugis. Ini saja sudah bikin penasaran banyak peserta wisata hingga beberapa ingin kembali ke kampung ini untuk bisa lebih puas menikmati di kompleks Gereja Tugu , rumah Portugis, dan keroncong bersama keturunan Portugis yang masih tersisa.

Semoga rasa penasaran lain, tentang upaya membenahi bangunan gereja ini, juga segera terjawab.


WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto