Selasa, 09 Juni 2009

Naik Kereta Api ke Passer Baroe


Naik Kereta Api ke Passer Baroe

Warta Kota/Pradaningrum
Pintu gerbang masuk ke Pasar Baru. Pasar ini dibangun Dandels pada tahun 1821 dan menjadi pasar elite pada masanya. Rabu, 3 Juni 2009 13:01 WIB
KOMPAS.com — Tahun 1821, sebuah pasar baru dibuka oleh Daendels. Pasar itu dibikin untuk membedakan Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang yang sudah didirikan lebih dulu pada 1733 oleh tuan tanah Justinus Vinck. Sebagai pasar yang baru di kawasan Weltevreden, pasar itu kemudian diberi nama Passer Baroe. Pasar ini dibangun dengan sistem los (disewakan per ruang).

Passer Baroe, yang terletak tak jauh dari Rijswijk dan Noordwijk (Jalan Veteran dan Jalan Juanda), merupakan pasar untuk kalangan elite di masa itu. Di pasar inilah untuk pertama kalinya sebuah toko menjual berbagai barang dengan mencantumkan harga pas. Toko itu milik Tio Tek Hong, pria asal Pasar Baru, dan ia pula yang merintis kebiasaan menutup toko setiap hari Minggu dan hari raya, demikian dipaparkan Ketua Komunitas Jelajah Budaya Kartum Setiawan.

Kawasan Pasar Baru sejak abad ke-19 itu juga dihuni oleh warga Tionghoa yang kemudian membuka usaha di pasar ini. Hanya sedikit yang bertahan hingga kini. Sebut saja Toko Lie Ie Seng, toko peralatan kantor dan tulis menulis; Toko Sin Lie Seng, toko sepatu tenar di masanya; Toko Jamu Nyonya Meneer; dan Toko Kompak yang adalah bekas kediaman Major Tionghoa Tio Tek Ho. Selain toko dan bangunan tua, di Pasar Baru ini terdapat satu vihara yang mungkin kurang beken dibandingkan beberapa vihara lain di kawasan Kota, Vihara Sin Tek Bio.

"Kawasan Pasar Baru ini kan juga merupakan kawasan pemerintahan maka di sana juga dibangun gedung kesenian, kantor pos," ujar Kartum lagi. Kawasan ini juga menjadi area pembauran antara pedagang India, Tionghoa, Arab, dan Betawi.

Saat ini, masih banyak terlihat bangunan tua yang dapat dilihat, di antaranya gedung Kantor Pos Filateli, gedung Antara yang merupakan saksi bisu tempat menyampaikan teks proklamasi pasca-17 Agustus 1945 oleh Adam Malik.

Keberadaan Pasar Baru ini dimulai sejak abad ke-19, ketika Gubernur Jenderal Daendels mengembangkan Weltevreden, yaitu sebuah tempat di selatan Batavia lama yang dirancang sebagai pusat pemerintahan yang baru. Pada awalnya, Pasar Baru hanya berupa pasar yang sangat sederhana, tempat pedagang pribumi menjual hasil kebunnya dengan pikulan serta pedagang kelontong Tionghoa.

Dalam sebuah catatan De Haan dalam Oud Batavia, tertulis bahwa lapangan untuk denah Pasar Baru telah dibeli oleh Daendels pada tahun 1809 dan telah direncanakan untuk dibuat pasar. Pasarnya sendiri mulai dibangun tahun 1821, padahal jelas terlihat bahwa di pintu gerbang Pasar Baru saat ini tertulis "Passer Baroe 1820". "Maka kita akan melakukan penjelajahan ke kawasan Pasar Baru berdasarkan perbedaan tahun itu. Kenapa berbeda," tanya Kartum.

Pada 1 Januari 1825, pasar ini disewakan kepada masyarakat. Hal ini juga termasuk pengenalan sistem sewa pasar dengan sistem los. Dalam pasar ini juga berlaku sewa pasar kuda dan sewa potong. Los-los terdiri dari kumpulan toko yang membujur searah dan bersampingan dari seberang jembatan Schouwburg (Gedung Kesenian Jakarta). Pada tahun 1828, pemerintah menjual beberapa bidang tanah yang terletak di sebelah timur dan barat pasar ini.

Untuk kegiatan penjelajahan yang digelar pada 7 Juni ini, peserta akan dibawa ke Pasar Baru dengan kereta api dari Stasiun Beos. Kemudian turun di Stasiun Juanda. Dari sana, perjalanan mengenang kawasan Passer Baroe dimulai. Kisah tentang perjalanan sejarah perkeretaapian di Batavia tentu merupakan satu kisah panjang yang lain lagi.

Menjejakkan kaki di Pasar Baru pada milenium kedua ini, sepanjang mata memandang, hanya terlihat kerumunan PKL yang seperti siap menyongsong warga. Toko-toko asli menjadi tertutup PKL yang berjejer di sepanjang pinggir jalan. Berantakan, itu kesan pertama yang langsung terlihat. Bangunan baru yang tak berkonsep juga mengganggu mata dan menutupi beberapa bangunan tua, bangunan Tionghoa, yang masih bertahan. Setidaknya, masih ada atap melengkung yang bisa diintip di sela-sela tembok dan atap bangunan baru.


WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Dari Spinhuis ke Schouwburg


Dari Spinhuis ke Schouwburg

Warta Kota/Pradaningrum
Tampak depan Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) di Jalan Jumat, 5 Juni 2009 11:31 WIB
PADA tahun 1641 didirikan penjara wanita di Kubu Zeeland. Sekitar tahun 1650 didirikan spinhuis yaitu rumah tempat tawanan wanita harus memintal. Tempat lama ada di Jalan Tiang Bendera kemudian dibongkar dan dibangun kembali pada 1715. Di samping penjara terdapat sekolah dan rumah sakit Tionghoa. Spinhuis yang baru kemudian juga digunakan untuk orang Tionghoa yang gila. Pada 1821 dibongkar dan bahannya dipakai untuk gedung kesenian.

Demikian salah satu catatan kaki yang ditulis Adolf Heuken dalam buku Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta. Catatan kaki ini dibikin untuk menjelaskan tentang cikal bakal Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Pada halaman lain buku itu dijabarkan tentang Kubu Zeeburg. Kubu ini semula ada di sisi barat tembok kota yang menempel di gudang VOC yang kini menjadi Museum Bahari. Dari tembok kota di depan museum, mula-mula ke arah utara lalu berbelok tajam ke barat. Tempat tembok kota berbelok tajam ke barat itu disebut Kubu Zeeburg.

Sementara itu HCC Clockener Brousson, mengutip catatan harian seorang serdadu Belanda yang tiba di Batavia sekitar awal abad 20, menorehkan, "Kami sampai di jalan lurus indah yang teduh dan melewati vrijmetselaasrweg dengan bangunan milik Loge (perkumpulan kaum teosifi) De Ster in het Oosten atau Bintang di Timur alias Rumah Setan." Perkumpulan Bintang di Timur (yaitu perkumpulan vrijmetselaar atau perkumpulan rahasia) itu menurut Heuken, menempati gedung yang dibikin pada tahun 1848 setelah sebelumnya mengganti bangunan yang dibangun pada 1837.

Serdadu itu melanjutkan catatannya, "Di sebelah kiri kami melewati bangunan cukup besar, de Bataviasche Schouwburg. Di gedung itulah tampil kelompok tonil Belanda, opera Italia, dan kelompok operet Inggris." Ruangan gedung ini dibagi-bagi menjadi ruang duduk, kandang kuda, taman bunga, beranda depan dan samping. Karcis tanda masuk seharga f 4.50; f 3.50; f 2.50; f 1.50; f 0,75. Gedung ini terletak di sudut di mana trem belok ke kiri.

Gedung Stadtsschouwburg (teater kota) yang dibangun pada 1821 oleh Lie Atje menggunakan bahan bangunan bekas spinhuis ini juga biasa disebut sebagai gedung komedi, demikian catatan Heuken. Penulis buku-buku sejarah Jakarta ini menyebutkan posisi GKJ yaitu di seberang jalan pada pojok Jalan Gedung Kesenian dan Jalan Pos. Mudahnya, bangunan yang dipugar secara menyeluruh pada tahun 1987 ini terletak di seberang Passer Baroe.

Dalam buku Perkembangan Kota Jakarta yang ditulis DR Abdurrachman Surjomihardjo tahun 1973, embrio Schouwburg sebenarnya sudah terbentuk di masa pemerintahan Thomas Stamford Raffles. Di masa pemerintahan Inggris 1811-1816 ini, tumbuh satu perkumpulan sandiwara yang anggotanya terdiri dari para opsir tentara Inggris. Mereka mengadakan pertunjukan di dalam bangunan yang terbuat dari bambu.

Setelah Inggris menyerahkan kekuasaan kembali ke Belanda, gedung yang disebut sebagai Teater Militer ini digunakan untuk pementasan drama Belanda. Tanggal 7 Desember 1821 gedung kesenian pun dibangun. Setelah bangunan kelar dan sempat kesulitan dana, kedatangan rombongan pemain Perancis pun menghidupkan kembali gedung ini, juga Batavia. Kedatangan kelompok pemain professional ini – meski menurut Heuken biasanya pemain Perancis yang datang adalah yang tidak laku lagi di negaranya – menyelamatkan Schouwburg.

Kondisi gedung ini kembali buruk di masa penjajahan Jepang karena gedung ini tak digunakan sebagai gedung kesenian tapi markas tentara. Untung akhirnya fungsi gedung ini dikembalikan sebagai gedung pertunjukan dengan nama Kiritsu Gelitzyoo.

Sebelum Jepang tiba, gedung ini menjadi tempat Kongres Pemoeda pertama pada tahun 1926. Sementara itu di sekitar akhir Agustus 1945 Presiden Soekarno meresmikan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNPI). Gedung ini juga sempat berganti fungsi di tahun 1950-an sebagai ruang kuliah malam bagi mahasiswa Universitas Indonesia untuk kemudian pada periode 1968 hingga 1985 digunakan sebagai bioskop Dana dan City Theatre.

Di antara tahun 1986 dan 1987 gedung ini dipugar dan kembali dijadikan gedung pertunjukan. Hingga kini, pergelaran yang ditampilkan di gedung ini biasanya pagelaran yang cukup berkelas dan bermutu.


WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Nikmatnya Nasi Goreng Arang Bumen Jaya


Nikmatnya Nasi Goreng Arang Bumen Jaya

Wartan Kota/Dian Anditya MutiaraSelasa, 19 Mei 2009 18:15 WIB
DI negeri ini, nasi goreng mungkin bisa dijuluki ’makanan generik’. Nasi goreng ada di mana-mana, dari rumah makan mentereng dengan pendingin udara (AC) hingga penjaja dengan gerobak pikulan di pinggir jalan.

Soal cita rasa tentu tergantung selera masing-masing orang. Kalau memang disukai orang, tentu penjual nasi goreng itu akan bertahan lama.

Seperti Rumah Makan Bumen Jaya yang dikenal sebagai salah satu rumah makan yang bertahan melestarikan makanan turun-temurun itu sejak dahulu. Di rumah makan tersebut, nasi goreng disajikan dalam beberapa variasi, antara lain nasi goreng ayam dan nasi goreng kambing. Ada pula mi rebus, sate ayam, sate kambing, sop kambing, gule, tongseng, dan lainnya. Namun yang menjadi ciri khas adalah nasi goreng ayam dan mi rebus.

”Sudah 45 tahun rumah makan ini berdiri, dan dari dulu resep yang dibuat Bapak tidak pernah berubah. Begitu juga dengan cara memasaknya, masih dengan memakai arang,” ujar Robiyanti (63), pemilik Rumah Makan Bumen Jaya. ’Bapak’ yang dia maksud adalah almarhum suaminya Anwar Sanusi.

Ketika Warta Kota mengamati, pengolahan masakan itu memang menggunakan anglo alias tungku tanah liat dengan bahan bakar arang kayu. Dengan demikian cita rasa masakan yang dihasilkan sangat khas.

Nasi goreng ayamnya diberi potongan daging ayam cukup banyak, disertai taburan emping yang melimpah. Hanya saja saat disajikan kebetulan agak dingin, karena ketika kami sampai di sana, terlihat di atas kompor sudah ada satu wajan besar berisi nasi goreng yang sudah siap, tinggal disajikan saja dengan tambahan emping.

Rasa nasi gorengnya lumayan. Kalau suka rasa pedas, pengunjung tinggal pesan khusus kepada sang koki. Nasi goreng itu pun akan diberi irisan cabai rawit. Wah, bisa dibayangkan pedasnya irisan cabai yang tergigit.

Mi rebusnya juga patut dicoba. Kami memilih mi nyemek. Diolah seperti membuat mi rebus tetapi hanya dengan sedikit kuah atau dalam bahasa Betawi disebut nyemek. Warnanya kecokelatan dan manis karena diberi campuran kecap.

”Awalnya bapak memakai mi kuning basah, tetapi semenjak ada isu boraks, kami jadi tidak berani pakai mi itu lagi. Paling sekarang pakai mi telur kering,” jelas Robiyanti.

Uritan

Sedikit membuka rahasia, menurut perempuan yang akrab dipanggil Yanti tersebut, bumbu dasar untuk nasi goreng berupa tomat, bawang putih, kemiri yang dihaluskan lalu ditumis sehingga menjadi bumbu jadi yang tinggal diolah bersama mi atau nasi.

Hanya saja kini ada yang berkurang. Kalau dulu ada campuran uritan (telur yang belum jadi di dalam perut ayam—Red) di dalam bumbunya. ”Sekarang sudah susah cari uritan di pasar, tapi rasanya tidak berubah kok,” tegas Yanti.

Baik nasi goreng maupun mi selalu disajikan dengan taburan emping. Bila Anda ingin lauk tambahan untuk nasi goreng, seperti kepala ayam, brutu (ekor), atau sayap, tinggal memesannya. Setiap lauk harganya Rp 3.000 per porsi. Nasi goreng ayam dan mi nyemek plus telur mata sapi harganya Rp 15.000 per porsi.

Sambil menunggu makanan yang dipesan datang, pengunjung bisa memesan otak-otak atau tahu pong sebagai camilan. Seporsi otak-otak isi 10 bungkus Rp 20.000, sedangkan tahu pong isi 10 biji Rp 10.000. Untuk minuman, yang jadi favorit pengunjung adalah es jeruk kelapa yang harganya Rp 10.000 per gelas.

Soal cita rasa tak perlu diperdebatkan. Setiap orang punya cita rasanya sendiri-sendiri. Yang pasti, Bumen Jaya sudah bertahan 45 tahun. Itu saja sudah menunjukkan bahwa menu dan cita rasanya yang khas punya penggemar tersendiri. Kalau tidak, tentu sudah gulung tikar. (Dian AM)

Kota Toea










Kota Toea

Wisata budaya (cultural tourism) kini semakin mendapat tempat di hati wisatawan. Budaya selalu menjadi obyek wisata utama di seantero dunia. Namun sekitar tiga dasawarsa lalu, tren wisata budaya mulai terpecah, wisatawan mulai tertarik juga pada hasil peninggalan masa lampau yang menempel pada dinding-dinding bangunan di kota bersejarah, kota tua pada setiap negara yang mereka kunjungi. Tren wisata itu diberi nama heritage tourism atau cultural heritage tourism.

Heritage, atau warisan berupa berbagai peninggalan dalam segala bentuk, penting bukan hanya sebagai sebuah identitas kota dan negara tapi juga bernilai ekonomi serta memberi dampak sosial. Budaya merekatkan manusia untuk mencipta saling pengertian yang membawa pada kedamaian dan keharmonisan. Wisata heritage pada akhirnya juga membantu memelihara dan melestarikan heritage/warisan itu sendiri.

Di dalam setiap kota tua masih lekat menempel sejarah sang kota, perjalanan hidup kota berabad lalu masih bisa terbaca hingga detik ini melalui bangunan tua, jalur kereta api, jembatan, kanal, kuliner, folklore, tradisi dan segala yang masih terus dilestarikan.

Kerutan di wajah sebuah kota tua, yang terpelihara apik, menjadi begitu menarik dan merangsang wisatawan untuk datang, tak sekadar menjenguk, mengenang, tapi juga mencoba memahami mengapa sebuah peristiwa terjadi pada satu kurun waktu. Kemudian, bisa kekaguman yang muncul atau dalam kisah tertentu, berharap kejadian buruk di masa lalu tak terulang kembali.

Warisan yang ada di setiap kota di dunia memiliki arti penting yang berbeda bagi penduduk kota itu sendiri, penduduk di negara di mana sebuah kota berada, atau bahkan bagi dunia.

Arti sebuah warisan bisa positif atau negatif. Warisan masa lalu, tak selalu berupa kejayaan yang membanggakan bagi generasi di masa kini namun seringkali juga mendatangkan rasa malu, kebencian, seperti pada masa kelam Jerman dan Eropa pada umumnya ketika Hitler berlagak menjadi Tuhan dan membantai orang Yahudi. Begitu banyak warga Jerman ingin melupakan warisan yang ditinggalkan Hitler. Tapi bagaimanapun, orang tak bisa melupakan sejarah mereka, baik yang membanggakan maupun yang memilukan.

Auschwitz atau Oswiescim yang masuk dalam World Heritage Sites UNESCO adalah salah satu peninggalan yang dilestarikan. Warga dunia ternyata lebih banyak yang memilih untuk tidak melupakan sejarah terkelam manusia di abad 20 melalui kamp pembantaian Yahudi di Polandia ini. Melalui Auschwitz, dunia diingatkan agar lakon ini tak pernah lagi dipentaskan pada panggung dunia manapun.

Berlin masih menyimpan reruntuhan tembok, perlambang runtuhnya komunisme, yang dihancurkan pada 1989. Gerbang Brandenburg menanti wisatawan yang ingin menatap pintu gerbang pertanda damai dari Raja Frederik William II dari Prussia dan dibangun oleh Carl Langhans yang kini jadi landmark Berlin - bahkan Eropa. di Koln berdiri tegak Katedral Koln atau Kõlner Dom sebagai tengara kota yang dibangun di sekitar abad 12.

Kota tertua di Belanda, Maastricht, yang sudah ada sejak zaman Romawi dan sempat hanya menjadi kota kecil di ujung Selatan Belanda, kini bersinar sebagai kota budaya dengan peninggalan dari abad 12 yang masih bisa dilihat, tembok kota, gerbang kota, dan benteng.

Sebagai kota benteng, Maastricht mempertahankan warisan itu hingga kini. Sejak 1992, di mana Maastricht menjadi kota kelahiran Uni Eropa lewat Perjanjian Maastricht (The Treaty of Maastricht), kota ini makin berkilap sebagai kota tujuan turis mancanegara. Pemerintah setempat sadar betul, koceknya makin gemuk dengan kedatangan turis. Goa, St Pietersberg Cave, yang sudah ada sejak sebelum Masehi pun masih terawat lengkap dengan peninggalan sketsa dan lukisan di dinding. Di masa Hitler, goa ini menjadi tempat persembunyian.

Intinya, mereka melek heritage. Warisan berabad silam dilestarikan bukan hanya demi memenuhi rasa penasaran para turis tapi juga demi pengembangan heritage itu sendiri.

Di beberapa negara seperti Inggris, Skotlandia, Australia, dan Amerika Serikat, tur hantu pun digelar. Biasanya mereka menyasar bangunan tua.

Dari Asia, Korea Selatan penuh dengan kuil yang dibangun bahkan sejak sebelum Masehi. Kota bersejarah Gyeongju, Kuil Bulguksa, dan pertapaan Seokguram Grotto semua masuk dalam daftar World Heritage Sites UNESCO. Kawasan Gyeongju sudah ada sejak tahun 57 sebelum Masehi. Gyeongju adalah bekas ibukota Kerajaan Silla yang sudah berkembang sejak awal milenium. Tak pelak, peninggalan arkeologi di kawasan ini mengambil lahan yang cukup luas, sekitar 1.300 km2. Sedangkan Kuil Bulguksa, kuil penganut Buddha, dibangun juga pada masa Kerajaan Silla pada sekitar tahun 580-an. Seokguram Grotto adalah salah satu bagian dari kompleks Kuil Bulguksa yang mulai didirikan pada tahun 742.

Bicara soal Korea Selatan, sekitar dua pekan lalu seorang rekan lama dari Seoul melempar surat elektronik ke Warta Kota. Setelah berbasa-basi menanyakan kabar, lantas mulailah diskusi tentang wisata heritage. Kemudian dia menulis, "Pemerintah Seoul sedang membangun kafe di jembatan Sungai Han. Bayangkan, secangkir kopi sambil memandang Sungai Han dan air mancur menari. Kalau malam, waaaaah... romantis. Dan ini dibikin untuk menarik turis."

Menarik turis berarti menyedot uang dari kocek para turis agar masuk ke Seoul. Sebuah upaya dan kemauan luar biasa dari pemerintah Seoul untuk mewujudkan janji mereka pada dunia, menampilakan Seoul sebagai Soul of Asia.

Bergerak ke negara tetangga Indonesia, Malaysia, ada Malaka yang tahun lalu masuk dalam daftar World Heritage Sites. Intinya, semua berlomba memelihara dan melestarikan warisan terpenting mereka sekaligus mengelolanya dengan baik.

Pada akhirnya memang, nilai ekonomi heritage begitu terasa langsung bagi kota dan penduduknya. Kafe, restoran, hotel, toko suvenir, pedagang tradisional semua terkena dampak berputarnya uang. Selain itu, keberlangsungan sebuah kota -lengkap dengan peninggalan sejarah dan budaya- terjaga bagi generasi selanjutnya.

Lantas, apa kabar Jakarta? Di usia yang menjelang 500 tahun, dalam rentang waktu yang kurang dari 20 tahun ke depan, Jakarta masih saja berantakan. Sudahkah Jakarta menciptakan citranya sebagaimana kota-kota lain di dekatnya?

Kawasan bersejarah Jakarta yang sedang dalam proses dihidupkan kembali kini terkesan dhedhel dhuwel. Mandek bukan hanya karena masalah pembangunan fisik, dan pembenahan ulang -karena dalam waktu dua tahun sudah babak belur lagi sehingga harus tambal sulam- tapi juga karena tak jelas arah revitalisasi itu. Terlalu banyak kepentingan, terlalu banyak cakap, minim tindakan.

Padahal, potensi kawasan bersejarah/kota tua Jakarta tak terkatakan. Tengok saja sejarah kota ini. Bermula dari Sunda Kelapa di seputar abad 12 kemudian berganti nama menjadi Jayakarta pada 1527, berubah lagi menjadi Batavia pada 1619 di masa VOC, dan terakhir Jakarta pada 1942.

Sejarah panjang itu bermula di kawasan yang kini disebut kawasan lama atau kawasan bersejarah atau kota tua. Seluruh kawasan tempat di mana Batavia berawal ini ditetapkan sebagai situs dan dilindungi oleh SK Gubernur DKI Jakarta No 475/1993 mengenai bangunan cagar budaya di DKI Jakarta yang harus dilestarikan.

Menurut Candrian Attahiyat, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kota Tua, sesuai Peraturan Gubernur No 34 Tahun 2006 tentang penguasaan, perencanaan, penataan kota tua, luas kawasan bersejarah atau kota tua Jakarta adalah 846 hektar. Batas sebelah Selatan adalah Gedung Arsip, batas Utara adalah Kampung Luar Batang, batas Timur Kampung Bandan, dan batas Barat di Jembatan Lima.

Di kawasan itu saja ada lebih dari 200 bangunan tua yang dimiliki BUMN, DKI Jakarta, swasta, dan perseorangan. Kondisinya? Lebih banyak yang menunggu ajal.

Selain empat museum milik DKI Jakarta, Museum Sejarah Jakarta yang menempati bekas gedung balai kota di masa Batavia; Museum Wayang; Museum Seni Rupa dan Keramik; dan Museum Bahari, kawasan ini juga memiliki dua museum perbankan, Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia.

Di seputaran bekas pusat Batavia, ada bangunan Stasiun Jakarta Kota atau Beos yang pembangunannya kelar pada 1929. Menyusur kanal membayangkan awal abad 19 di mana kawasan Kali Besar tenar sebagai pusat bisnis, bisa jadi alternatif lain. Bangunan-bangunan tua di sisi kiri dan kanan kanal menjadi saksi sebagain sejarah Jakarta.

Lebih ke Utara, ada sisa tembok Batavia, ada pula kampung yang seharusnya tetap lestari sebagai Kampung Tugu. Kampung ini masuk sebagai kawasan yang dilestarikan dalam SK Gubernur DKI No 475/1993. Disebut demikian karena, menurut Adolf Heuken, penulis sejarah Jakarta, di kawasan ini ditemukan Prasasti Tugu - peninggalan arkeologis tertua yang membuktikan pengaruh Hindu di Jawa Barat.

Di kampung ini pula para mardijkers - tahanan yang sudah dibebaskan, dimerdekakan oleh Belanda - tinggal. Mereka kebanyakan keturunan Portugis.

Gereja Tugu yang pertama kali dibangun pada 1670-an, masih berdiri di sana. Kampung ini juga menyimpan warisan kuliner seperti dendeng tugu dan pindang srani tugu yang semua sudah punah bersama punahnya Kampung Tugu. Kampung yang harusnya lestari seperti apa adanya, kini hanya menyisakan keroncong tugu. Selebihnya, kini kawasan itu jadi tempat antrean truk konteiner.

Untuk menyasar wisata kuliner, kota tua masih memiliki kawasan yang paling beken. Kawasan itu tak lain adalah Pancoran, Glodok. Ingin ke pulau, bergeser sedikit ke Teluk Jakarta ada Kepulauan Seribu dengan Taman Arkeologi Pulau Onrust - pulau yang sibuk/tak pernah istirahat - yang terdiri atas Pulau Onrust, Cipir, Kelor, dan Bidadari.

Tentu saja Indonesia tak hanya punya Jakarta. Kota-kota lain di Pulau Jawa seperti Banten, Cirebon, Bandung, Yogyakarta, Semarang hingga kota-kota di luar Pulau Jawa menyimpan warisan tersendiri.

Yang perlu diingat bahwa bahkan dari segelas bir, secangkit kopi atau teh, sepotong es krim, semangkuk soto, atau patahan tembok tua, kita bisa kembali ke ratusan bahkan ribuan tahun lalu.

Preserving our past, building our future... Mulailah detik ini.
Hajatan
Museum Wayang, Jakarta, Minggu, 7 Juni 2009, pukul 10.00 - 14.00
Wayang Golek Sunda
Museum Wayang, Jakarta Kota, Minggu 24 Mei 2009, pukul 10.00-14.00.
Pergelaran Wayang
Bentara Budaya Jakarta, Kamis, 28 Mei 2009, pukul 19.30
Music Performance: Sol Project









Gereja Tugu Segera Dikonservasi




Gereja Tugu Segera Dikonservasi

Warta Kota/Agus Himawan
Gereja yang sekarang berdiri merupakan bangunan yang ketiga setelah bangunan yang pertama 1678 yang dari kayu hancur pada pemberontak Cina tahun 1740. Tahun 1744, atas bantuan seorang tuan tanah Justinus Vinck, gereja ini dibangun kembali dan baru selesai pada 1747.Senin, 8 Juni 2009 12:16 WIB
SETELAH sekian lama warga Kampung Tugu menanti upaya perbaikan terhadap gereja mereka, akhirnya kabar baik itu datang juga dari Pemprov DKI, dalam hal ini dari Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Utara.

Kabar bahwa pekan depan gereja mereka, gereja bersejarah dari abad 18, akan mulai dikonservasi cukup melegakan hati warga Kampung Tugu. Khususnya warga yang biasa menggunakan Gereja Tugu sebagai tempat ibadah selama puluhan tahun. Kampung yang merupakan kawasan cagar budaya yang gagal, seperti yang terjadi pada Kampung Betawi Condet ini, menyisakan warisan berupa bangunan gereja dan satu bangunan rumah keturunan Portugis sebagai penanda sejarah - selain Keroncong Tugu, tentunya.

Sekitar tahun lalu Warta Kota sudah melihat atap bangunan yang masuk dalam daftar cagar budaya ini penuh dengan bercak-bercak bekas bocor dari air hujan. Di samping itu, atap di sisi kiri gedung sudah pula melengkung. Belum lagi tembok bangunan yang terkena rembesan air tanah. Tahun lalu pula, banjir merendam pekuburan para leluhur keturunan Portugis di Kampung Tugu, Semper, Jakarta Utara, ini. Atap gedung ini tampak sudah keropos. Jangan sampai kejadian seperti gelagar Museum Bahari yang roboh di awal tahun lalu terjadi lagi di sini.

Seorang anggota gereja yang menerima rombongan Ekspedisi Marunda IV menyatakan, mulai pekan depan ibadah jemaat akan dipindah ke Gedung Serba Guna Yeruel, sebuah bangunan di sebelah gereja utama. Pemindahan itu terkait makin parahnya kerusakan atap gedung gereja dan akan dimulainya proses pembenahan gedung cagar budaya itu. Belum ada pihak dari Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Utara yang bisa memberi konfirmasi perihal ini.

Gereja Tugu menyimpan bangku diakon antik dan mimbar tua. Di samping kanan gereja ada lonceng tua. Adolf Heuken, penulis sejarah Jakarta, mencatat lonceng ini berasal dari tahun 1880.

Tentu saja suka cita warga Kampung Tugu dan jemaat Gereja Tugu adalah suka cita warga Jakarta pada umumnya. Jejak sejarah melalui bangunan berupa masjid, kelenteng, dan gereja menjadi daya tarik warga yang mulai menjadikan wisata sejarah dan wisata budaya sebagai alternatif di hari libur.

Seperti juga yang diperlihatkan peserta Ekspedisi Marunda IV yang digelar Komunitas Historia, sepanjang Minggu (7/6). Daya tarik Gereja Tugu - dibangun atas biaya Justinus Vinck antara tahun 1744 dan 1747 - tak lepas dari kekayaan tradisi Kampung itu sendiri. Bicara soal Gereja Tugu, maka mau tidak mau mereka akan bicara tentang sisa-sisa keturunan Portugis yang masih ada lengkap dengan nama Portugis. Ini saja sudah bikin penasaran banyak peserta wisata hingga beberapa ingin kembali ke kampung ini untuk bisa lebih puas menikmati di kompleks Gereja Tugu , rumah Portugis, dan keroncong bersama keturunan Portugis yang masih tersisa.

Semoga rasa penasaran lain, tentang upaya membenahi bangunan gereja ini, juga segera terjawab.


WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

Senin, 08 Juni 2009

Reog Ponorogo Meriahkan Harlah Bung Karno


Reog Ponorogo Meriahkan Harlah Bung Karno

KOMPAS/HERU SRIMUMORO
Kirab Reog
/
Sabtu, 6 Juni 2009 17:31 WIB
KARAWANG, KOMPAS.com--Hiburan Seni Reog Ponorogo dari Jawa Timur, Sisingaan dari Kabupaten Subang dan Barongsai meramaikan suasana peringatan Hari Lahir (Harlah) Bung Karno ke-108 di Lapang Tugu Rengasdengklok, Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Sabtu.
Kedua hiburan seni itu sengaja ditampilkan sambil menunggu dimulainya acara peringatan Harlah Bung Karno ke-108, sekira pukul 12.30 WIB, yang akan dihadiri calon presiden Megawati Soekarnoputri dan calon wakil presiden Prabowo Subianto.
Pertunjukan tersebut menjadi perhatian warga setempat, sehingga meskipun acara belum dimulai, warga yang ingin melihat Megawati dari dekat sudah memadati lokasi panggung.
"Hiburan seni Sisingaan itu adalah sumbangan dari Bupati Subang Eep Hidayat dan untuk seni Reog Ponorogo adalah sumbangan dari salah seorang bupati di Jawa Timur," kata Ketua Panitia Harlah Bung Karno ke-108, Deden Darmansyah, kepada ANTARA, di Karawang, Sabtu.
Pasang Bendera PDIP dan Partai Gerindra
Bendera Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) banyak terpasang di beberapa titik menuju lokasi peringatan Harlah Bung Karno ke-108, di Lapang Tugu Proklamasi Rengasdengklok, Karawang.
Selain itu, ada pula baliho Megawati-Prabowo yang terpasang di sisi jalan menuju lokasi acara. Sementara di sekitar panggung acara, tidak ada atribut partai, baik atribut PDIP maupun Gerindra.
Namun, kelompok paduan suara yang berada di paling kiri panggung menggunakan seragam pakaian putih bertuliskan Mega-Prabowo. Begitu juga dengan para pemain Reog Ponorogo, menggunakan seragam pakaian bertuliskan Mega-Prabowo.
"Ini murni acara Harlah Bung Karno, bukan kampanye," kata Ketua DPP PDIP, Adang Ruhiatna, di Karawang, Sabtu.

Susi Air Antar Anda ke "Surganya" Tukang Besi


Susi Air Antar Anda ke "Surganya" Tukang Besi

Kompas/Lasti Kurnia
Ikan Behn's Damsel dengan seekor ikan pembersih di antara terumbu karang di perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara.
/
Artikel Terkait:
Kalimantan Akan Menjadi Tujuan Wisatawan Dunia
Bagian Mana dari Monas yang Paling Diminati Orang?
30 April, Saatnya Berburu Barang Bekas di Koninginnedag
PKL Borobudur Pakai Busana Adat
Minggu, 31 Mei 2009 07:47 WIB
WAKATOBI, KOMPAS.com - Perjalanan menuju Kepulauan Wakatobi tampaknya tidak akan menjadi keluhan lagi bagi sebagian kalangan masyarakat, terutama para wisatawan. Turis yang ingin menikmati obyek wisata alam di kepulauan yang memiliki ekosistem terumbu karang indah di bawah laut, akan lebih mudah karena akses transportasi udara mulai terbuka. Dengan adanya bandar udara (Bandara) Matahora di Kota Wangi-Wangi, yang telah diresmikan oleh Menteri Perhubungan, Jusman Safi’i Jamil (22/5) tampaknya telah menghilangkan animo bahwa transporatasi wilayah kepulauan hanya bisa dilayani dengan angkutan laut. Gugusan kepulauan Wakatobi -- akronim dari nama pulau Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko -- merupakan salah satu wilayah terisolasi di bagian timur Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) karena letak geografisnya berada di perairan Laut Banda. Untuk menjangkau wilayah yang juga dikenal "Pulau Tukang Besi" (daerah penghasil kerajinan besi), cukup jauh dari Kota Kendari, ibukota Provinsi Sultra. Masyarakat yang akan ke kota dan dari Kota Kendari - Wakatobi menggunakan kapal pelayaran rakyat dengan waktu tempuh sekitar 10 jam (musim gelombang laut rendah) sampai 15 jam (musim gelombang laut tinggi). Selain itu juga dapat melalui perjalanan laut dari Kota Kendari - Kota Bau-Bau dengan menggunakan kapal cepat, dan melanjutkan perjalanan darat menuju pelabuhan Lasalimu atau Pasar Wajo (Kabupaten Buton), kemudian menggunakan kapal pelayanan rakyat ke Wakatobi. Bagi masyarakat kepulauan Wakatobi, perjalanan seperti itu merupakan hal biasa, tetapi bagi masyarakat luar Wakatobi, apalagi kalangan wisatawan, mungkin tidak terbiasa karena selain menyita waktu perjalanan yang panjang, juga bisa melelahkan. Melihat kondisi geografis kepulauan Wakatobi yang sejak tahun 2003 menjadi daerah otonomi -- pemekaran dari Kabupaten Buton--, akhirnya Bupati Wakatobi, Hugua dengan dukungan DPRD dan masyarakat setempat membangun Bandara Matahora menggunakan dana APBD Wakatobi tahun 2008. Hugua mengatakan, pembangunan bandara tersebut dilakukan secara bertahap, mulai tahun 2008 landasan pacu sepanjang 1.400 meter, dan tahun 2009 diperpanjang menjadi 1.800 meter dan tahun 2010 akan diperpanjang menjadi 2.100 meter agar dapat melayani pesawat berbadan lebar. Pengoperasian Bandara Matahora oleh Menteri Perhubungan yang lalu juga sekaligus diawali dengan penerbangan perdana pesawat "Susi Air" - pesawat berbadan kecil dengan kapasitas penumpang 12 orang-- , dari Kota Kendari - Wakatobi yang membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Terobosan pembangunan Bandara ini, kata dia, sangat penting untuk mempermudah akses transportasi ke daerah ini, sebab kalau mengandalkan akses transportasi laut, maka wilayah tersebut sulit untuk maju sejajar dengan daerah lain. "Pembangunan Bandara ini diharapkan dapat memacu pertumbuhan ekonomi daerah ini dan sekitarnya, karena akses transportasi semakin terbuka, berarti perputaran roda perekonomian rakyat bisa meningkat," ujarnya dengan penuh harap di masa depan. Menurut Hugua, dengan penggunaan transportasi udara tersebut, bagi wisatawan, baik dalam negeri maupun luar negeri yang melakukan perjalanan pulang pergi ke dan dari Wakatobi - daerah asal wisatawan itu, bisa terpangkas waktu minimal selama empat hari. "Para wisatawan membutuhkan perjalanan yang cepat, rasa nyaman dan aman ke Wakatobi, oleh karena itu, salah satu solusinya dengan membangun Bandara tersebut," ujarnya. Hugua memprediksi bahwa jumlah wisatawan ke Wakatobi di mas mendatang bisa melonjak dari sebelumnya mencapai sekitar 3.000 sampai 4.000 orang, menjadi sekitar 200.000 orang per tahun. "Saya optimistis dengan adanya bandara ini, jumlah wisatawan bisa meningkat. Sebelumnya banyak turis mengurungkan niatnya ke Wakatobi hanya karena masalah transportasi," ujar Hugua yang selalu aktif ke luar negeri untuk mempromosikan potensi sumber daya alam daerahnya. Ia mengatakan, wisatawan mancanegara yang ke Wakatobi datang secara terorganisir dengan menggunakan transportasi udara khusus dari Bandara Ngurah Rai Denpasar Bali melalui Bandara Maranggo di Pulau Tomia, yang dikelola investor PT. Wakatobi Divers Resort asal Jerman. "Wisatawan yang menggunakan jasa PT. Wakatobi Divers Resort itu selalu antri setiap tahun untuk berkunjung ke Wakatobi, oleh karena itu, kami buka akses transportasi udara lain melalui Bandara Matahora, dengan harapan agar masyarakat, khususnya wisatawan yang mau ke sini tidak lagi kesulitan transportasi," ujarnya. Hugua yang juga dikenal sebagai pegiat lembaga swadaya masyarakat "Sintesa" ini mengatakan, Wakatobi dengan luas wilayah 65.705 kilometer persegi itu, memiliki potensi kekayaan sumber daya laut yang luar biasa karena letaknya berada di segi tiga karang dunia yang melinatasi di enam negara, yakni Malaysia, Philipina, Pulau Salomon, Papua Nugini dan Timor Laste. Berdasarkan hasil penelitian dari lembaga studi internasional, kata Hugua, Wakatobi memiliki keanekaragam terumbu karang terbesar di dunia sekitar 750 jenis dibandingkan dengan terumbu karang di Laut Merah memiliki sekitar 450 jenis dan Laut Karibia sekitar 50 jenis. Oleh karena itu, kata Hugua, Pemerintah Kabupaten Wakatobi memberikan julukan obyek wisata alam bahari itu dengan "Bumi Surga Bawah Laut", yang diimplementasikan dalam konsep visi pemerintah daerah tersebut, yakni "Terwujudnya Surga Nyata Bawah Laut di Jantung Segitiga Karang Dunia". "Konsep visi dan misi Pemerintah Wakatobi seperti ini bisa dikatakan sesuatu yang ambisius dan mimpi, tapi inilah karakter wilayah ini karena berbeda dengan daerah lain di Indonesia karena potensi andalan adalah kekayaan sumber daya laut, baik hasil perikanan maupun pariwisata, khususnya obyek wisata terumbu karang," ujarnya. Selain pariwisata, potensi sumber daya perikanan di Wakatobi, juga cukup kaya dengan ikan cakalang, tuna, kerapu, kakap, lobster, teripang, dan rumput laut, serta penangkaran satwa langka penyu. Pemkab Wakatobi, kata Hugua, telah menfokuskan perhatian pada sektor pariwisata dan perikanan, meskipun dalam kerangka kebijakan pemerintah setempat bahwa prioritas utama pembangunan pada sektor pendidikan, kesehatan dan pembangunan sarana infrastruktur serta peningkatan pelayanan birokrasi pemerintah. "Dengan bertumpu pada prioritas utama pembangunan tersebut, sehingga alokasi anggaran sektor pariwisata dan sumber daya perikanan cukup kecil karena fokus perhatian kedua sektor ini bukan pembangunan fisik, tetapi lebih bersifat promotif terhadap potensi sektor pariwisata dan hasil-hasil perikanan," ujarnya. Pada saat peresmian Bandara Matahora dan penerbangan perdana pesawat Susi Air (22/5), Menteri Perhubungan, Jusman Safi’i Jamal memuji inisiatif Pemerintah Kabupaten Wakatobi dan maskapai Susi Air yang telah melakukan terobosan membuka keterisolasian wilayah ini dengan membangun bandara dan pelayanan pesawat penerbangan. "Kami sangat menghargai dan mendukung inisiatif Bupati Wakatobi membangun bandara ini dan pihak maskapai Susi Air yang melayani penerbangan di daerah ini. Mudah-mudahan manfaatnya bisa memacu pusat-pusat pertumbuhan daerah ini dan sekitar," ujarnya. Sebab, kata Menhub, pembangunan bandara tersebut sangat strategis untuk mendukung Kabupaten Wakatobi sebagai daerah wisata "surga di bawah laut" dan pemanfaatan potensi kekayaan sumber daya perikanan. Hal senada dikatakan Gubernur Sultra Nur Alam, kehadiran Bandara Wakatobi sangat stretegis untuk mendukung pengelolaan potensi kekayaan alamnya terutama obyek wisata yang keindahan panorama bawah laut dan sumber daya perikanan. "Wakatobi sudah terkenal di dunia dengan aneka ragam dan keindahan terumbu karangnya, oleh karena itu, kehadiran bandara akan membuka mata dunia untuk menarik banyak pengunjung untuk menyaksikan surga di bawah laut," ujarnya. Karena itu, kata Nur Alam, Pemerintah Provinsi Sultra akan mengoordinasikan dengan seluruh pemerintah kabupaten dan kota di Sultra agar membangun infrastruktur Bandara di daerahnya masing-masing agar bisa ’link’ dilayani oleh pesawat Susi Air. "Kami akan menyusun ’master plan’ penerbangan yang dapat melayani seluruh wilayah di Sultra dan juga daerah sekitarnya seperti Kepulauan Flores (NTT) dan Buru (Maluku)" ujarnya. Direktur Maskapai Susi Air, Susi Pujiastuti mengatakan, pihaknya menyediakan layanan transportasi udara tersebut pulang pergi dari dan ke Kendari - Wangi-Wangi sebanyak 10 kali dalam semiggu. Susi menambahkan, pihaknya juga telah berkomitmen untuk melayani penerbangan di daerah pesisir yang memiliki visi penyelamatan lingkungan, oleh karena itu, selain penumpang, juga pesawat tersebut akan melayani kargo hasil perikanan yang ramah lingkungan. "Saya sampaikan bahwa kami tidak akan melayani kargo hasil perikanan yang diperoleh dengan menangkap ikan dengan bom, potasium, dan merusak hutan bakau serta tidak melayani kargo ikan hias.